Sebuah penelitian pada tikus menemukan bahwa mengonsumsi antioksidan dalam dosis tinggi secara rutin dapat merusak DNA sperma dan memengaruhi perkembangan tengkorak serta wajah keturunan. Hasil ini penting karena banyak orang memakai suplemen antioksidan untuk kesehatan.
Tim peneliti menguji dua antioksidan yang umum, yaitu NAC dan selenium. Pejantan menerima antioksidan itu selama enam weeks sebelum kawin. Anak yang lahir, terutama anak perempuan, menunjukkan jarak mata lebih dekat dan tengkorak yang lebih kecil dibandingkan kelompok kontrol.
Peneliti memperingatkan agar pria yang merencanakan anak berhati-hati saat memakai suplemen dosis tinggi dan menimbang kembali penggunaan produk dengan kandungan antioksidan besar.
Kata-kata sulit
- antioksidan — zat yang melindungi sel dari kerusakan oksidatif
- sperma — sel reproduksi laki-laki yang membuahi sel telur
- tengkorak — tulang yang melindungi otak dan bentuk kepala
- keturunan — anak atau generasi selanjutnya dari orang tua
- dosis — jumlah obat atau suplemen yang diberikan
- pejantan — hewan atau orang laki-laki untuk tujuan kawin
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah Anda atau orang yang Anda kenal pernah memakai suplemen antioksidan? Mengapa?
- Bagaimana pendapat Anda tentang peringatan peneliti untuk pria yang merencanakan anak?
- Jika Anda merencanakan anak, apakah Anda akan mengubah kebiasaan suplemen? Jelaskan singkat.
Artikel terkait
Platform Baru Pantau Demam Berdarah Secara Bulanan
Global Dengue Observatory adalah platform dari LSHTM yang memantau tren demam berdarah bulanan menggunakan data WHO dan proyek OpenDengue. Alat ini membantu menyoroti kenaikan, keterlambatan pelaporan, dan pola regional seperti di Amerika Latin.
Studi: Video Game Bisa Membantu Mengelola Stres
Penelitian dari Boston University menunjukkan banyak pemain menggunakan video game untuk mengatasi stres dan mengatur emosi. Studi ini mensurvei mahasiswa tentang kebiasaan bermain, alasan bermain, dan perasaan sebelum/durasi/setelah bermain.
Menargetkan Sirkuit Otak Kurangi Kambuh Opioid
Peneliti dari Washington State University melaporkan bahwa menargetkan sirkuit antara korteks prelimbik dan thalamus paraventrikular mengurangi perilaku mencari obat pada model praklinis opioid. Studi ini memakai kemogenetika dan optogenetika.