Sebuah penelitian pada tikus menemukan bahwa mengonsumsi antioksidan dalam dosis tinggi secara rutin dapat merusak DNA sperma dan memengaruhi perkembangan tengkorak serta wajah keturunan. Hasil ini penting karena banyak orang memakai suplemen antioksidan untuk kesehatan.
Tim peneliti menguji dua antioksidan yang umum, yaitu NAC dan selenium. Pejantan menerima antioksidan itu selama enam weeks sebelum kawin. Anak yang lahir, terutama anak perempuan, menunjukkan jarak mata lebih dekat dan tengkorak yang lebih kecil dibandingkan kelompok kontrol.
Peneliti memperingatkan agar pria yang merencanakan anak berhati-hati saat memakai suplemen dosis tinggi dan menimbang kembali penggunaan produk dengan kandungan antioksidan besar.
Kata-kata sulit
- antioksidan — zat yang melindungi sel dari kerusakan oksidatif
- sperma — sel reproduksi laki-laki yang membuahi sel telur
- tengkorak — tulang yang melindungi otak dan bentuk kepala
- keturunan — anak atau generasi selanjutnya dari orang tua
- dosis — jumlah obat atau suplemen yang diberikan
- pejantan — hewan atau orang laki-laki untuk tujuan kawin
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah Anda atau orang yang Anda kenal pernah memakai suplemen antioksidan? Mengapa?
- Bagaimana pendapat Anda tentang peringatan peneliti untuk pria yang merencanakan anak?
- Jika Anda merencanakan anak, apakah Anda akan mengubah kebiasaan suplemen? Jelaskan singkat.
Artikel terkait
Kekhawatiran tentang Polisi dan Risiko Jantung pada Perempuan Kulit Hitam
Studi menemukan hubungan antara kekhawatiran tentang kebrutalan polisi—terutama khawatir soal anak—dengan penanda risiko kardiovaskular pada perempuan kulit hitam di Amerika Serikat. Penelitian ini menggunakan pengukuran ketebalan intima-media karotis sebagai indikator risiko.
Tikus CC023 dan kemungkinan hubungan antara infeksi virus dan ALS
Peneliti menemukan bahwa tikus strain CC023 merespons infeksi virus dengan cara yang mirip penyakit ALS pada manusia. Model tikus ini mungkin membantu menemukan penanda awal dan mendukung pengembangan pengobatan untuk ALS sporadis.