Penelitian menunjukkan bahwa waktu hari saat obat diberikan dapat mengubah seberapa baik kemoterapi bekerja untuk pasien glioblastoma. Glioblastoma adalah kanker otak yang sulit diobati, dan obat standar yang dipakai disebut temozolomide (TMZ).
Para peneliti menemukan enzim bernama MGMT memperbaiki kerusakan DNA yang dibuat oleh TMZ. Tingkat MGMT naik turun sepanjang hari, dan metilasi (yang menonaktifkan gen) juga berubah. Mereka melihat bahwa biopsi yang diambil pada pagi hari lebih sering diberi skor bermetilasi.
Studi ini menggunakan pengukuran sel tumor dan model matematika sederhana untuk memprediksi waktu terbaik pemberian TMZ. Langkah berikutnya adalah menguji kronoterapi dengan TMZ di uji klinis dan meneliti obat lain seperti dexamethasone.
Kata-kata sulit
- kemoterapi — pengobatan kanker dengan obat yang kuat
- glioblastoma — kanker otak yang sulit diobati
- enzim — protein yang mempercepat reaksi kimia
- memperbaiki — membuat sesuatu kembali baik atau utuh
- metilasi — perubahan kimia pada DNA yang menonaktifkan gen
- biopsi — pengambilan jaringan tubuh untuk diperiksa
- kronoterapi — memberi obat sesuai waktu tubuh untuk hasil lebih baik
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa menurutmu waktu pemberian obat bisa mengubah efek kemoterapi?
- Jika kamu atau keluarga harus menjalani biopsi, apakah kamu lebih ingin dilakukan pagi atau sore? Jelaskan satu alasan.
- Apa yang ingin kamu ketahui lebih lanjut tentang menguji obat lain seperti dexamethasone?
Artikel terkait
Beras Joha dari India Menunjukkan Potensi Melawan Diabetes
Penelitian di India menemukan bahwa beras harum tradisional Joha dapat menurunkan kadar gula dan melindungi jantung pada uji laboratorium dan percobaan pada tikus. Para peneliti mendorong promosi dan kebijakan untuk mendukung penanaman Joha.
Studi Genetika: Banyak Korban Bunuh Diri Tanpa Depresi
Penelitian genetika University of Utah menunjukkan banyak orang yang meninggal karena bunuh diri tidak memiliki depresi atau riwayat psikiatri. Peneliti menganalisis data anonim lebih dari 2.700 kasus untuk menemukan perbedaan risiko genetik.