Tim internasional mereplikasi studi Ulrich dari 1991 dan menguji efek video alam pada hampir 1.000 relawan di laboratorium di berbagai negara Eropa dan Amerika Serikat. Metode penelitian meliputi pemicu stres pertama dengan video tentang kecelakaan kerja, lalu pemutaran salah satu dari enam video lingkungan.
Para peserta mengisi kuesioner sebelum dan sesudah video stres serta setelah video lingkungan. Kuesioner menanyakan ketakutan, kemarahan, emosi positif, kesedihan, dan kewaspadaan. Sensor juga merekam respons tubuh seperti aktivitas jantung, variabilitas denyut jantung, dan produksi keringat.
Hasil menunjukkan video stres menimbulkan lebih banyak ketakutan, kemarahan, dan kesedihan serta perubahan fisiologis yang jelas. Setelah menonton, orang yang melihat adegan alam melaporkan emosi positif lebih besar dan kemarahan lebih sedikit dibanding yang menonton adegan perkotaan. Ukuran fisiologis membaik pada semua peserta, dan hanya adegan hutan yang tampak menenangkan lebih cepat.
Kata-kata sulit
- mereplikasi — mengulangi penelitian sebelumnya untuk perbandingan
- relawan — orang yang ikut serta dalam penelitian
- pemicu — sesuatu yang menyebabkan reaksi atau stres
- kuesioner — daftar pertanyaan untuk mengukur perasaan peserta
- variabilitas — perubahan atau ketidakstabilan dalam pola denyut
- produksi — pembuatan atau keluarnya zat dari tubuh
- fisiologis — berkaitan dengan fungsi tubuh dan organ
- menenangkan — membuat lebih tenang atau rileks pada orang
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah Anda lebih merasa tenang saat melihat video alam atau perkotaan? Jelaskan mengapa.
- Bagaimana menurut Anda kombinasi kuesioner dan sensor membantu peneliti memahami reaksi peserta?
- Apakah Anda percaya hasil ini berlaku juga di kehidupan sehari-hari? Mengapa atau mengapa tidak?
Artikel terkait
AI Mempercepat Diagnostik Medis di Sub-Sahara Afrika
Kecerdasan buatan kini dipakai untuk diagnosis cepat di beberapa bagian sub-Sahara Afrika, termasuk deteksi malaria dan interpretasi rontgen. Proyek awal menunjukkan pengurangan pemberian antibiotik tidak tepat dan komplikasi malaria, namun regulasi dan privasi tetap penting.
Pengobatan Cryptococcal Meningitis dan upaya menyederhanakan terapi
Cryptococcal meningitis menyerang orang dengan HIV dan menyebabkan banyak kematian di Afrika Sub-Sahara. Uji klinis di Malawi mencoba menyederhanakan pengobatan, sementara pedoman WHO diperbarui pada 2022 untuk rejimen yang lebih singkat.