Sebuah tim peneliti mengembangkan Model COP untuk memahami berita palsu. Model itu melihat tiga hal dalam setiap berita: kebenaran, daya emosional, dan relevansi dengan hidup orang.
Tim lalu menganalisis lebih dari 10.000 cuitan tentang COVID-19. Mereka mengukur like dan jumlah balasan negatif untuk melihat reaksi publik. Hasilnya menunjukkan nada emosional—terutama emosi negatif seperti takut dan marah—mendorong like danแชร์ meskipun konten kurang benar.
Para peneliti menyarankan platform dapat memakai rasio like terhadap balasan dan nada emosional untuk menandai unggahan bermasalah. Mereka juga menekankan pentingnya literasi media di sekolah.
Kata-kata sulit
- mengembangkan — membuat atau memperbaiki sesuatu secara bertahap
- kebenaran — keadaan sesuai fakta atau tidak salah
- daya emosional — kekuatan perasaan yang mempengaruhi orang
- cuitan — pesan singkat yang diposting di Twitter
- rasio — perbandingan dua angka atau jumlah
- literasi media — kemampuan memahami dan menilai informasi media
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah Anda melihat berita yang kuat emosinya di media sosial? Bagaimana reaksi Anda?
- Menurut Anda, bagaimana sekolah bisa mengajarkan literasi media?
- Apakah Anda setuju platform harus menandai unggahan bermasalah? Mengapa?
Artikel terkait
Senyawa pada Ceri Gelap Memperlambat Kanker Payudara
Peneliti melaporkan bahwa antosianin dalam ceri gelap dapat memperlambat pertumbuhan dan penyebaran kanker payudara triple-negatif pada tikus, dan bisa meningkatkan efek kemoterapi. Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang keamanan dan penyerapan senyawa ini.
Kebutuhan Psikologis Dasar Mempengaruhi Perilaku Minum Alkohol
Penelitian menunjukkan orang yang kebutuhan psikologisnya terpenuhi cenderung minum dengan lebih aman. Studi mengaitkan otonomi, kompetensi, dan koneksi dengan pilihan minum yang lebih bertanggung jawab dan risiko penyalahgunaan lebih rendah.