Para peneliti yang menulis di jurnal Information Systems Frontiers mengusulkan Content Dimensions–Overton Window–Perceived Utility (COP) Model untuk menjelaskan mengapa orang menerima dan membagikan berita palsu. COP memeriksa tiga faktor utama dalam setiap konten: sejauh mana isinya benar, seberapa besar daya emosionalnya, dan seberapa relevan konten itu bagi kehidupan pembaca. Mereka juga memasukkan konsep jendela Overton untuk menunjukkan gagasan apa yang dianggap dapat diterima oleh masyarakat pada suatu waktu.
Untuk menguji model, tim menganalisis lebih dari 10.000 cuitan tentang COVID-19. Analisis mereka meliputi penghitungan like, identifikasi tweet yang "di-ratio" (mendapat lebih banyak komentar negatif daripada like), serta analisis emosi dan sentimen untuk menilai nada, tingkat kepercayaan, dan relevansi. Temuan utama menunjukkan respons yang kuat terhadap nada emosional, terutama emosi negatif seperti takut, marah, dan jijik. Bahkan ketika konten kurang benar, jika konten itu memuaskan secara emosional dan relevan, kemungkinan mendapat like dan dibagikan meningkat, dan efek ini lebih kuat pada berita palsu dibandingkan cerita tabloid yang terutama dibaca untuk hiburan.
Para penulis mengusulkan langkah praktis: platform dapat menggunakan rasio like terhadap balasan dan analisis nada emosional sebagai sinyal tambahan selain pemeriksaan fakta. Mereka juga menyoroti pentingnya literasi media sejak dini, mencontoh program di Finlandia, untuk mengurangi penyebaran misinformasi yang digerakkan oleh emosi. Seperti yang dikatakan salah satu penulis, "Kita tidak hanya berbicara tentang apa yang orang percayai. Kita berbicara tentang apa yang menjadi dapat diterima untuk dipercaya."
Kata-kata sulit
- mengusulkan — mengajukan ide atau rencana kepada orang lain
- di-ratio — mendapat lebih banyak komentar negatif daripada like
- emosi — perasaan kuat yang mempengaruhi reaksi seseorang
- sentimen — sikap atau perasaan umum terhadap suatu hal
- relevansi — hubungan penting antara konten dan kehidupan pembaca
- rasio — perbandingan dua jumlah atau ukuran
- literasi media — kemampuan memahami dan menilai informasi media
- pemeriksaan fakta — proses memeriksa kebenaran informasi yang disampaikan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana program literasi media sejak dini, seperti yang disebut di Finlandia, bisa membantu mengurangi penyebaran misinformasi di masyarakat?
- Apa risiko dan manfaat jika platform menggunakan rasio like terhadap balasan sebagai sinyal tambahan untuk menilai konten?
- Mengapa menurut Anda berita palsu yang memicu emosi negatif lebih mudah menyebar dibanding cerita tabloid yang bersifat hiburan?
Artikel terkait
China Mulai Kampanye Dua Bulan untuk Hapus Konten 'Negatif' di Internet
Administrasi Ruang Siber China memulai kampanye dua bulan pada 22 September untuk menghapus konten yang dianggap membangkitkan permusuhan, kekerasan, dan sentimen pesimis. Kampanye mencakup semua saluran online dan telah memblokir beberapa influencer terkenal.
Jeda Singkat di Media Sosial untuk Kurangi Misinformasi
Peneliti dari University of Copenhagen meneliti cara sederhana untuk memperlambat penyebaran misinformasi di media sosial. Mereka menemukan bahwa menambah jeda kecil dan elemen pembelajaran dapat mengurangi pembagian impulsif dan meningkatkan kualitas unggahan yang dibagikan.
Pelatihan Kecepatan Kognitif Kurangi Risiko Demensia
Peserta lansia yang menyelesaikan pelatihan kecepatan kognitif dan beberapa sesi penguat memiliki kemungkinan lebih kecil didiagnosis demensia sampai dua dekade kemudian. Temuan ini berasal dari uji klinis jangka panjang pada orang dewasa lanjut usia.
Isyarat Tangan Pesepeda Sulit Dipahami Pengemudi
Penelitian dari Rice University menunjukkan pengemudi sangat mengandalkan isyarat lengan pesepeda, tetapi beberapa gerakan sulit dipahami. Studi menyoroti penurunan akurasi saat pengemudi terganggu dan menyarankan pendidikan serta isyarat yang lebih jelas.