Penelitian dari departemen fisiologi integratif dan ilmu saraf di Washington State University, yang diterbitkan di Journal of Neuroscience, meneliti hubungan antara korteks prelimbik dan thalamus paraventrikular. Tim menggunakan model praklinis yang meniru penggunaan opioid pada manusia untuk melihat perilaku mencari obat.
Mereka menemukan bahwa sinyal dari korteks prelimbik sangat mengaktifkan thalamus paraventrikular, dan bahwa mengurangi aktivitas jalur ini secara signifikan mengurangi mencari heroin. Dua metode digunakan: kemogenetika, yang memperkenalkan reseptor rancangan ke neuron yang memproyeksikan ke thalamus, dan optogenetika, yang memberi pola cahaya frekuensi rendah untuk mendesensitisasi koneksi.
Hasil ini menunjukkan jalur otak tertentu dapat menjadi target intervensi untuk mencegah kambuh, dan peneliti menyarankan pendekatan serupa dapat diadaptasi untuk manusia dan zat lain.
Kata-kata sulit
- korteks — lapisan luar otak yang mengatur fungsi komplekskorteks prelimbik
- thalamus — bagian otak yang meneruskan dan memproses sinyalthalamus paraventrikular
- model — rancangan penelitian sebelum uji coba pada manusiamodel praklinis
- opioid — jenis obat yang memengaruhi sistem saraf
- kemogenetika — metode mengendalikan sel saraf dengan obat khusus
- optogenetika — metode mengendalikan sel saraf dengan cahaya
- intervensi — tindakan untuk mengubah atau menghentikan masalah
- kambuh — kembali munculnya perilaku mencari obat
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana hasil penelitian ini bisa membantu mencegah kambuh pada orang yang kecanduan?
- Apa keuntungan dan keterbatasan menggunakan model praklinis untuk meneliti obat dibandingkan penelitian pada manusia?
- Jika akan dikembangkan untuk manusia, metode mana yang menurutmu lebih mudah digunakan, kemogenetika atau optogenetika? Mengapa?
Artikel terkait
Penelitian Brown: Target mTOR untuk Obat Kanker Lebih Spesifik
Penelitian dari Brown University menemukan cara memahami dua kompleks protein mTOR. Hasilnya menunjukkan kemungkinan memblokir hanya mTORC2 untuk menghentikan sinyal pertumbuhan kanker tanpa memicu jalur kelangsungan hidup.
Studi: Uji Klinis Obat Kurang Mewakili Keberagaman AS
Peneliti dari University of California menelaah 341 uji penting (2017–2023) dan menemukan hanya 6% uji yang mencerminkan komposisi rasial dan etnis AS. Mereka menganalisis tren ketidakwakilan dan merekomendasikan peningkatan keberagaman sejak awal pengembangan obat.