Peneliti menguji program virtual yang menggabungkan pola makan dan olahraga untuk pasien limfoma yang menerima kemoterapi. Program memberi pembinaan mingguan online oleh ahli gizi dan fisiolog olahraga. Sesi disesuaikan untuk kebutuhan masing-masing pasien.
Dalam studi, pasien dibagi ke dua kelompok: satu mendapat akses program dan satu lagi menunggu. Banyak pasien mendaftar dan hadir pada sesi. Peserta yang mengikuti program melaporkan gejala yang lebih sedikit dan menunjukkan hasil performa fisik lebih baik dibanding kelompok menunggu.
Kata-kata sulit
- peneliti — orang yang melakukan studi atau penelitian
- menggabungkan — menyatukan dua hal menjadi satu
- pola makan — cara seseorang biasa memilih dan makan makanan
- pembinaan — bimbingan atau dukungan untuk belajar
- fisiolog olahraga — ahli yang mempelajari tubuh saat berolahraga
- disesuaikan — diubah agar cocok dengan kebutuhan
- gejala — tanda atau rasa yang menunjukkan penyakit
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurutmu program online seperti ini berguna untuk pasien? Mengapa?
- Jika kamu atau keluarga mendapat kemoterapi, apakah kamu mau ikut program ini? Jelaskan singkat.
- Menurutmu bagian mana yang penting: pola makan atau olahraga? Beri alasan singkat.
Artikel terkait
AI Membimbing Mahasiswa Bedah Saat Latihan Menjahit Luka
Para peneliti di Johns Hopkins mengembangkan AI yang menilai dan memberi umpan balik personal pada mahasiswa kedokteran saat berlatih menjahit luka. Studi acak dengan 12 mahasiswa menunjukkan manfaat terbesar bagi yang sudah punya dasar bedah.
Lenacapavir: Suntikan Pencegah HIV Dua Kali Setahun
Lenacapavir adalah suntikan pencegah HIV yang akan tersedia di 120 negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan biaya US$40 per tahun. Distribusi direncanakan mulai 2027, namun ada kekhawatiran soal negara yang dikecualikan dan pendanaan.
Tidur Anak dan Risiko Bunuh Diri pada Keluarga Berpenghasilan Rendah
Penelitian menunjukkan memperbaiki kualitas tidur dapat mengurangi risiko pikiran dan percobaan bunuh diri pada anak, terutama di keluarga berpenghasilan rendah. Konektivitas jaringan otak tertentu tampak memberi perlindungan terhadap efek tidur yang buruk.