Penelitian baru menjelaskan mengapa beberapa gunung berapi yang kaya gas tidak selalu meletus secara eksplosif. Selama ini, para ilmuwan menganggap gelembung terbentuk terutama saat tekanan turun ketika magma naik. Model itu mirip sampanye: gas terlarut keluar saat tekanan berkurang dan membentuk gelembung yang membuat magma naik lebih cepat dan terkadang meledak.
Artikel di jurnal Science melaporkan mekanisme tambahan. Geser di saluran magma — perbedaan kecepatan antara bagian tengah dan dinding — bisa menghasilkan gelembung di tepi saluran. Jika gelembung tumbuh dan bergabung jauh di dalam saluran, mereka membentuk jalur kecil untuk gas keluar. Kehilangan gas lewat jalur ini dapat membuat keluarnya magma lebih tenang.
Tim melakukan percobaan laboratorium dengan cairan kental yang disaturasi karbon dioksida. Mereka juga menggunakan simulasi komputer. Hasilnya menunjukkan geser dapat mempercepat atau mengurangi potensi ledakan, tergantung bagaimana gelembung terbentuk dan bergabung.
Kata-kata sulit
- penelitian — Proses mencari tahu atau mengkaji sesuatu.
- magma — Batu cair yang muncul dari dalam bumi.
- gelembung — Bentuk bulat yang berisi gas atau udara.
- gaya gesek — Kekuatan yang menghambat gerakan dua benda bertemu.
- letusan — Proses keluarnya bahan dari gunung berapi.
- tekanan — Kekuatan yang diterapkan pada suatu area.
- ilmu — Pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian.ilmuwan
- memperhitungkan — Perkiraan tentang apa yang akan terjadi.
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana gaya gesek mempengaruhi aktivitas gunung berapi?
- Mengapa penting untuk memprediksi letusan gunung berapi?
- Apa dampak letusan gunung berapi terhadap lingkungan?
Artikel terkait
Tes Darah Mempercepat Diagnosis Limfoma Burkitt
Peneliti di Afrika Timur menemukan bahwa biopsi cair (tes darah) dapat mempercepat diagnosis limfoma Burkitt sehingga anak dapat mulai pengobatan lebih cepat. Studi dilakukan di Tanzania dan Uganda dan menunjukkan hasil yang menjanjikan meski ada tantangan teknis.
Peralihan Cepat dari Tindakan Sadar ke Kebiasaan di Otak
Tim peneliti di Johns Hopkins menemukan bahwa peralihan dari tindakan yang disengaja menjadi kebiasaan dapat terjadi tiba-tiba. Mereka menggunakan tikus dan merekam aktivitas otak, lalu menemukan satu wilayah otak yang mungkin berperan sebagai sakelar.