Sebuah makalah di jurnal Nature Communications menggambarkan tes kecerdasan buatan yang memprediksi risiko kekambuhan kanker payudara. Peneliti menyatakan tes ini lebih cepat dan lebih murah dibanding tes genomik, yang sering memakan waktu berminggu-minggu dan memakai jaringan yang kemudian dibuang.
Tes multimodal ini menggabungkan data klinis rutin dan preparat patologi (kaca objek). Informasi klinis meliputi stadium tumor, usia pasien, dan status reseptor hormon. Tim menilai tes ini menggunakan data dari 15 populasi pasien di tujuh negara dan lebih dari 3.500 pasien. Para penulis menekankan perlunya uji klinis acak sebelum tes dipakai secara luas.
Kata-kata sulit
- makalah — tulisan ilmiah yang diterbitkan di jurnal
- memprediksi — menyatakan kemungkinan sesuatu akan terjadi
- kekambuhan — kembali munculnya penyakit setelah pengobatan
- genomik — studi tentang gen dan struktur DNA
- preparat patologi — potongan jaringan yang dilihat di bawah mikroskop
- reseptor — bagian sel yang menerima sinyal hormon
- uji klinis acak — studi pada pasien untuk uji obat secara acak
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurutmu tes yang lebih cepat dan lebih murah dapat membantu pasien?
- Apakah menurutmu uji klinis acak penting sebelum tes baru dipakai? Mengapa?
- Data klinis mana yang disebutkan dalam artikel?
Artikel terkait
AI Mempelajari Nilai Budaya dari Perilaku Manusia
Penelitian University of Washington menunjukkan AI yang dilatih mengamati perilaku manusia dapat meniru nilai budaya. Eksperimen permainan dan tes donasi menunjukkan agen yang dilatih pada data kelompok Latino bertindak lebih tolong‑menolong.
Molekul Baru dari Bakteri Terumbu Karang
Ekspedisi Tara Pacific mengumpulkan ribuan sampel terumbu karang dan menemukan banyak bakteri baru yang menghasilkan metabolit bioaktif. Penelitian menunjukkan potensi obat dan produk industri, namun menekankan pentingnya konservasi terumbu karang.
Studi: COVID-19 dan Flu Tinggalkan Perubahan Jangka Panjang
Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kasus ringan COVID-19 atau influenza dapat menyebabkan perubahan berkepanjangan di paru-paru. Hanya pada COVID-19 ditemukan peradangan otak dan gangguan pada jalur serotonin dan dopamin.