- Penelitian baru melihat efek setelah sakit.
- Studi membandingkan COVID-19 dan influenza.
- Bahkan kasus ringan bisa berdampak lama.
- Paru-paru menunjukkan tanda kerusakan yang lama.
- Sel imun tidak kembali tenang sepenuhnya.
- Kolagen menumpuk dan jaringan jadi kaku.
- Tikus dengan COVID-19 juga punya peradangan otak.
- Beberapa gejala seperti sesak dan lelah tetap ada.
Kata-kata sulit
- penelitian — kegiatan untuk mencari informasi baru
- membandingkan — melihat persamaan dan perbedaan dua hal
- kerusakan — keadaan menjadi rusak atau tidak normal
- kolagen — protein dalam tubuh yang memberi kekuatan
- peradangan — reaksi tubuh terhadap luka atau infeksi
- gejala — tanda atau pengalaman saat sakit muncul
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah kamu merasa lelah lama setelah sakit?
- Bagaimana perasaanmu jika kamu masih sesak napas?
- Apa yang kamu lakukan saat gejala sakit masih ada?
Artikel terkait
Permainan Komputer Bantu Perbaiki Otak Setelah Cedera
Studi menunjukkan orang dewasa dengan cedera otak traumatik dapat memperbaiki struktur otak dan kemampuan berpikir dengan menyelesaikan permainan kognitif berbasis komputer. Perubahan terukur terlihat pada neuroplastisitas, kecepatan pemrosesan, perhatian, dan memori.
Varian Gen Tingkatkan Risiko Gagal Jantung pada Anak dengan Miokarditis
Studi menemukan varian genetik lebih sering pada anak yang mengembangkan kardiomiopati dilatasi setelah miokarditis dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini mendukung pemeriksaan genetik dan tindakan klinis pada anak dengan miokarditis dan gagal jantung.
Jalur inflamasi 'pintu belakang' pada rheumatoid arthritis
Penelitian di Washington State University menemukan jalur inflamasi alternatif yang memperkuat TNF dan mungkin menjelaskan kegagalan beberapa obat untuk rheumatoid arthritis. Memblokir reseptor Fn14 mengurangi lonjakan peradangan dan menjadi target terapi berikutnya.
Deforestasi di Tropis Mempercepat Pemanasan dan Kematian Panas
Studi menggunakan data satelit dan model menunjukkan hilangnya hutan di daerah tropis (2001–2020) menaikkan suhu lokal dan terkait sekitar 28,000 kematian panas per tahun. Sekitar 345 juta orang terpapar, terutama di Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.