- Penelitian baru melihat efek setelah sakit.
- Studi membandingkan COVID-19 dan influenza.
- Bahkan kasus ringan bisa berdampak lama.
- Paru-paru menunjukkan tanda kerusakan yang lama.
- Sel imun tidak kembali tenang sepenuhnya.
- Kolagen menumpuk dan jaringan jadi kaku.
- Tikus dengan COVID-19 juga punya peradangan otak.
- Beberapa gejala seperti sesak dan lelah tetap ada.
Kata-kata sulit
- penelitian — kegiatan untuk mencari informasi baru
- membandingkan — melihat persamaan dan perbedaan dua hal
- kerusakan — keadaan menjadi rusak atau tidak normal
- kolagen — protein dalam tubuh yang memberi kekuatan
- peradangan — reaksi tubuh terhadap luka atau infeksi
- gejala — tanda atau pengalaman saat sakit muncul
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah kamu merasa lelah lama setelah sakit?
- Bagaimana perasaanmu jika kamu masih sesak napas?
- Apa yang kamu lakukan saat gejala sakit masih ada?
Artikel terkait
Metode Ultrasound Baru Bantu Bedakan Kista dan Massa
Peneliti mengembangkan pemrosesan sinyal ultrasound yang membedakan massa berisi cairan dan massa padat lebih akurat. Uji awal menunjukkan deteksi benar 96% dibanding 67% dengan alat konvensional; penelitian dari Johns Hopkins ini didanai federal.
Pengganti Daging Nabati Ubah Lemak dalam ASI dalam Enam Hari
Uji klinis kecil menemukan bahwa mengganti daging sapi dengan pengganti daging nabati mengubah jenis lemak dalam ASI hanya dalam enam hari. Peneliti mengatakan perubahan itu mungkin berpengaruh pada perkembangan otak dan kekebalan bayi.
RSV dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang
Penelitian menemukan bahwa orang dewasa yang dirawat karena RSV sering mengalami keluhan berbulan-bulan setelah keluar rumah sakit, termasuk sesak napas dan kesulitan aktivitas. Studi menekankan pencegahan melalui vaksinasi dan kebutuhan perawatan lanjutan.
Lajang pada orang muda dan kesejahteraan
Studi longitudinal dari University of Zurich mengikuti lebih dari 17.000 orang muda di Jerman dan Britania Raya. Hasil menunjukkan lajang jangka panjang terkait penurunan kepuasan hidup dan peningkatan kesepian; menjalin hubungan pertama meningkatkan beberapa aspek kesejahteraan.