Peneliti di India melaporkan kemajuan menuju antivenom untuk kalajengking hitam Heterometrus bengalensis. Studi ini akan diterbitkan pada bulan September dan tim menggunakan spektrometri serta analisis biokimia untuk memetakan bisa. Mereka menemukan 25 toksin yang termasuk dalam delapan keluarga protein.
Peneliti menguji bisa pada tikus Swiss albino dan menemukan toksisitas sistemik, kenaikan enzim hati, kerusakan organ, dan peradangan. Tim laboratorium sekarang mengusahakan produksi antivenom yang mungkin dapat bekerja untuk lebih dari satu spesies.
Kata-kata sulit
- antivenom — obat yang menetralkan bisa hewan
- spektrometri — metode untuk mengukur spektrum zat
- biokimia — ilmu yang mempelajari bahan kimia dalam makhluk hidup
- toksin — zat berbahaya yang dibuat organisme hidup
- toksisitas — tingkat bahaya atau racun suatu zat
- peradangan — respon tubuh yang menyebabkan bengkak dan nyeri
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa penting membuat antivenom yang bisa bekerja untuk beberapa spesies?
- Bagaimana perasaanmu tentang penggunaan tikus dalam penelitian seperti ini?
Artikel terkait
AI Membimbing Mahasiswa Bedah Saat Latihan Menjahit Luka
Para peneliti di Johns Hopkins mengembangkan AI yang menilai dan memberi umpan balik personal pada mahasiswa kedokteran saat berlatih menjahit luka. Studi acak dengan 12 mahasiswa menunjukkan manfaat terbesar bagi yang sudah punya dasar bedah.
Studi: Ketidakamanan Energi Tingkatkan Kecemasan dan Depresi di AS
Sebuah studi oleh Michelle Graff dari Georgia Tech yang diterbitkan di JAMA Network Open menemukan ketidakamanan energi terkait gejala kecemasan dan depresi pada rumah tangga AS. Peneliti menyarankan penyaringan ketidakamanan energi oleh layanan kesehatan.
Ribuan Anak di Gaza Butuh Perawatan Prostesis
Banyak anak di Gaza kehilangan anggota tubuh dan memerlukan prostesis serta perawatan berkelanjutan. Layanan dan pasokan sangat terbatas, dan para ahli memperingatkan risiko jangka panjang tanpa tindak lanjut rutin dan penggantian prostesis.