Sejumlah peneliti di University of Georgia merancang sebuah permainan bernama Virtual Vet untuk siswa sekolah dasar. Mereka membuat beberapa versi permainan dan mengujinya sebelum menemukan versi yang paling efektif untuk pelajar muda.
Dalam permainan, siswa berperan sebagai asisten dokter hewan dan memeriksa dua kucing. Satu kucing sehat dan satu kucing terlihat lesu serta kelebihan berat badan. Pemain mengumpulkan bukti, menganalisis data, lalu merekomendasikan cara memperbaiki kesehatan kucing.
Peneliti membandingkan hasil tes anatomi siswa sebelum dan setelah bermain dengan anak yang belajar lewat kegiatan kelas tradisional. Rata-rata, anak yang bermain memperoleh skor lebih tinggi.
Kata-kata sulit
- merancang — membuat rencana atau desain sesuatu
- asisten — orang yang membantu pekerjaan orang lain
- lesu — keadaan lemah atau tidak bersemangat
- bukti — informasi atau tanda yang menunjukkan fakta
- menganalisis — memeriksa data untuk mengerti artinya
- merekomendasikan — menyarankan tindakan atau solusi kepada orang lain
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurutmu permainan seperti ini bisa membantu belajar anak? Mengapa?
- Kamu lebih suka belajar lewat permainan atau lewat kelas biasa? Mengapa?
- Bagaimana permainan seperti ini bisa membantu anak merawat hewan peliharaan?
Artikel terkait
Splicing alternatif terkait umur pada 26 spesies mamalia
Studi di Nature Communications membandingkan splicing alternatif pada 26 spesies mamalia (usia 2.2–37 tahun). Hasil menunjukkan pola splicing, terutama di otak, berhubungan dengan usia maksimal dan dikendalikan oleh protein pengikat RNA.
Peneliti Temukan Kerentanan di Pengelola Kata Sandi Cloud
Peneliti ETH Zurich menguji tiga pengelola kata sandi berbasis cloud dan menemukan beberapa serangan yang dapat mengakses atau mengubah kata sandi pengguna. Mereka memberi penyedia waktu untuk memperbaiki dan memberi rekomendasi keamanan.
Kekerasan Digital terhadap Jurnalis dan Aktivis Perempuan
Kekerasan digital terhadap jurnalis dan aktivis perempuan di Indonesia semakin terlihat dalam lima tahun terakhir. Serangan online meliputi doxing, manipulasi foto, peretasan dan DDoS; korban melaporkan perlindungan kelembagaan yang terbatas.