Setelah pemilihan presiden mendadak pada Juni 2025, sebuah survei besar mengumpulkan jawaban dari lebih dari 2.000 pemilih. Survei itu dibuat oleh Hankook Research dan Sisa In dengan masukan akademis dan memakai hingga 239 pertanyaan.
Hasil survei menunjukkan pria usia 18–29 lebih konservatif mengenai feminisme, kebijakan redistribusi, dan sikap terhadap migran dan pengungsi. Hasil pemilu pada Juni juga mencerminkan pandangan itu: sekitar sepertiga pria muda memilih tokoh dari partai reformasi, dan kandidat konservatif mendapat dukungan serupa.
Kata-kata sulit
- mendadak — terjadi tiba-tiba tanpa persiapan atau peringatan
- masukan — pendapat atau saran dari orang lain
- konservatif — mempertahankan nilai tradisional dan berhati-hati
- redistribusi — pembagian ulang sumber daya atau kekayaan
- migran — orang yang pindah ke negara atau tempat lain
- pengungsi — orang yang meninggalkan negara karena bahaya
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa menurutmu penting mengetahui pandangan pemilih muda?
- Apakah kamu pernah mengikuti survei besar seperti ini? Ceritakan singkat.
- Bagaimana menurutmu banyaknya pertanyaan (misalnya 239) mempengaruhi jawaban orang?
Artikel terkait
Connie Nshemereirwe: Sains, Pendidikan, dan Kolaborasi di Afrika
Connie Nshemereirwe, spesialis pengukuran pendidikan dan mantan insinyur, mengajak penelitian di Afrika tumbuh dari akar rumput dan memperkuat hubungan antarilmuwan di global Selatan. Ia juga membahas komunikasi sains dan dampak penutupan sekolah selama pandemi.
Propaganda dan Liputan Media pada Unjuk Rasa 28 June di Beograd
Analisis Nataša Stanojević (ISAC) yang diterbitkan ulang oleh Global Voices meneliti liputan media dan respons politik terhadap unjuk rasa besar pada 28 June di Beograd. Sekitar 140,000 orang turut serta; media pro-pemerintah melabeli peserta, sementara laporan independen mencatat sebagian besar aksi damai dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi.
Kekerasan Digital terhadap Jurnalis dan Aktivis Perempuan
Kekerasan digital terhadap jurnalis dan aktivis perempuan di Indonesia semakin terlihat dalam lima tahun terakhir. Serangan online meliputi doxing, manipulasi foto, peretasan dan DDoS; korban melaporkan perlindungan kelembagaan yang terbatas.