Di Korea Selatan terjadi pergeseran politik di kalangan pria muda yang menciptakan salah satu kesenjangan gender terbesar dalam opini publik di dunia. Survei pasca-pemilu pada Juni 2025, dilakukan oleh Hankook Research dan Sisa In dengan masukan akademis, mengumpulkan jawaban dari lebih dari 2.000 pemilih menggunakan hingga 239 pertanyaan; profesor John Kuk membantu merancang kuesioner.
Survei memberi contoh konkret: 71 persen pria 18–29 sangat atau cukup tidak setuju pada kuota gender untuk jabatan publik tinggi, sedangkan 63 persen wanita sangat atau cukup setuju. Pada pernyataan tentang gerakan yang menghormati maskulinitas, 47 persen pria muda setuju dan 68 persen wanita tidak setuju. Namun 61 persen pria muda tidak setuju kekerasan bisa dipakai untuk menyelamatkan demokrasi, dan 52 persen menolak kecurigaan manipulasi pemilu.
Pemilu Juni mencerminkan pandangan ini: di antara pria 18–29, 37,2 persen memilih Lee Jun-seok dari Reform Party dan 36,9 persen memilih kandidat partai konservatif penguasa. Di kelompok wanita usia sama, sekitar 58 persen memilih Lee Jae-myung dari Democratic Party, dan hampir 6 persen wanita berusia 20-an mendukung Kwon Young-kook dari Democratic Labor Party.
Penganalisis melihat beberapa pendorong pergeseran ini:
- Bangkitnya gerakan anti-feminis yang dikenal sebagai "Idaenam" dan forum daring yang didominasi pria seperti Ilbe dan FM Korea.
- Pembunuhan seorang wanita berusia 23 tahun dekat Gangnam pada 2016 yang memperkuat aktivisme feminis dan memicu debat publik sengit.
- Budaya meritokratis yang dalam: belanja pendidikan swasta mencapai KRW 29,2 trillion pada 2024 (about USD 20 billion), dan hampir 63 persen hakim adalah lulusan universitas elit SKY, sementara banyak politisi dan CEO papan atas juga berasal dari sekolah-sekolah itu.
Kritikus mengatakan sistem pendidikan dan persaingan ketat menimbulkan rasa kecewa yang membentuk politik dan perdebatan kebijakan, sedangkan aktivis menyoroti normalisasi perilaku bermusuhan di forum anonim sebagai faktor lain.
Kata-kata sulit
- pergeseran — perubahan arah atau kondisi dari sebelumnya
- kesenjangan gender — perbedaan sikap atau kesempatan antara pria dan wanita
- kuota gender — aturan memberi jumlah posisi untuk satu jenis kelamin
- maskulinitas — sifat atau citra yang dianggap khas pria
- aktivisme — kegiatan untuk mendukung perubahan politik atau sosialaktivisme feminis
- meritokratis — percaya bahwa prestasi menentukan posisi sosial atau kerja
- normalisasi — proses menjadikan sesuatu dianggap biasa atau wajarnormalisasi perilaku bermusuhan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa forum daring anonim dan normalisasi perilaku bermusuhan bisa mempengaruhi pandangan politik pria muda? Jelaskan dengan contoh dari teks.
- Menurut artikel, bagaimana sistem pendidikan dan persaingan ketat dapat membentuk kekecewaan politik? Berikan alasan singkat.
- Langkah apa yang mungkin mengurangi kesenjangan gender dalam opini publik yang dijelaskan di teks? Jelaskan pendapat Anda dengan alasan.
Artikel terkait
Warga Mile Four Bamenda Beralih ke Tenaga Surya karena Pemadaman Listrik
Pemadaman listrik panjang dan tidak menentu di Mile Four, Bamenda mendorong warga mencari solusi lokal. Mereka mengumpulkan dana untuk trafo komunitas dan banyak memasang sistem surya terdesentralisasi untuk kebutuhan rumah tangga dan layanan publik.
Melihat Ketidakpastian sebagai Peluang
Penelitian ETH Zurich menguji apakah memandang ketidakpastian sebagai peluang mengubah sikap politik. Setelah presentasi singkat, peserta lebih positif terhadap keberagaman, lebih mendukung perubahan sosial, dan lebih kecil kemungkinan memilih AfD.
Mamokgethi Phakeng: Matematikawan dan Pemimpin Universitas
Mamokgethi Phakeng adalah matematikawan dan pemimpin universitas dari Afrika Selatan. Ia perempuan kulit hitam pertama meraih doktor pendidikan matematika, menjadi wakil rektor University of Cape Town pada Juli 2018, dan menerima beberapa penghargaan internasional.