Penelitian ini memakai data dari Adolescent Brain Cognitive Development study, proyek longitudinal yang mengikuti lebih dari 10.000 remaja selama enam tahun mulai sekitar usia 10 tahun. Para peneliti memantau penggunaan media sosial harian dan beberapa ukuran kognitif selama empat tahun untuk melihat perubahan kemampuan membaca, kosakata, perhatian, dan kecepatan pemrosesan informasi.
Temuan utama menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih sering setiap hari mengalami kesulitan mengenali dan mengucapkan kata-kata, serta memiliki laju kenaikan kemampuan membaca dan kosakata yang lebih lambat. Para peneliti menekankan bahwa keterampilan ini berpotensi memengaruhi prestasi sekolah. Pada periode yang sama, pengguna intens juga menunjukkan kesulitan kontrol atensi.
Tim penelitian mengajukan dua penjelasan: notifikasi dan multitasking yang sering mengganggu perhatian, atau kecenderungan anak yang sudah kesulitan fokus untuk menggunakan media sosial secara intens. Namun tidak semua dampak negatif: pengguna sering menunjukkan kecepatan pemrosesan informasi yang lebih tinggi dan waktu reaksi lebih pendek pada tes berbasis layar. Pemimpin penulis Cory Carvalho mengatakan, "Otak itu seperti otot. Semakin sering digunakan, semakin ia berubah sesuai dengan cara penggunaannya." Rekan penulis Niyantri Ravindran menambahkan bahwa efek negatif pada kosakata dan membaca "lebih dapat diperkirakan karena media sosial berpotensi mengurangi kesempatan anak untuk melibatkan beberapa keterampilan kognitif tingkat tinggi tersebut."
Para peneliti juga mencatat manfaat sosial media sosial untuk menjaga hubungan, terutama di lingkungan di mana mencari teman sulit. Untuk mengurangi potensi bahaya, mereka menyarankan langkah praktis berikut:
- batasi waktu layar bagi remaja, terutama sebelum tidur,
- tunda pembelian ponsel pintar sampai anak lebih tua,
- gunakan ponsel dasar yang tidak dapat mengakses media sosial jika orang tua perlu tetap berhubungan.
Studi ini diterbitkan di Journal of Research on Adolescence. Sumber: University of Georgia. Temuan ini dirilis saat Australia menjadi negara pertama yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial, sementara pemerintah dan platform lain sedang mempertimbangkan pembatasan usia dan verifikasi.
Kata-kata sulit
- longitudinal — studi atau penelitian yang mengikuti subjek lama
- kognitif — berkaitan dengan proses berpikir dan pemahaman
- kontrol atensi — kemampuan mengarahkan dan mempertahankan perhatian
- memengaruhi — mempunyai efek atau pengaruh pada sesuatu
- notifikasi — pemberitahuan singkat dari aplikasi atau perangkat
- multitasking — melakukan beberapa tugas bersamaan secara bergantian
- kecepatan pemrosesan informasi — seberapa cepat otak memproses informasi
- membatasi — membuat batasan jumlah atau waktu sesuatubatasi
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Berdasarkan teks, bagaimana Anda menilai saran untuk menunda pembelian ponsel pintar sampai anak lebih tua?
- Apa keuntungan dan kerugian media sosial untuk remaja menurut artikel ini?
- Langkah praktis mana yang menurut Anda paling mudah diterapkan oleh orang tua, dan mengapa?
Artikel terkait
Indonesia Perketat Aturan Platform Digital
Pemerintah Indonesia memperketat pengaturan platform digital dan menuntut transparansi moderasi konten. Aturan memberi wewenang menghapus konten dan memblokir platform, namun kritik mengatakan ketentuan itu masih kabur dan bisa mengganggu kebebasan berbicara.
Ilmuwan Afrika Selatan Pantau Kualitas Udara Waktu Nyata dengan Metode Fisika Partikel
Ilmuwan di Afrika Selatan mengadaptasi metode fisika partikel untuk sistem AI_r yang memantau kualitas udara waktu nyata menggunakan sensor murah, IoT, dan kecerdasan buatan. Proyek memasang 500 sensor di Sedibeng tahun depan dan mendapat dukungan internasional.