Penelitian baru menemukan bahwa remaja yang rutin memakai media sosial cenderung mengalami perkembangan membaca dan kosakata yang lebih lemah dari waktu ke waktu. Temuan ini muncul saat Australia menjadi negara pertama yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial.
Studi ini memakai data longitudinal dari proyek besar yang mengikuti lebih dari 10.000 remaja selama beberapa tahun. Para peneliti memantau penggunaan harian media sosial dan beberapa ukuran kognitif.
Mereka melaporkan bahwa penggunaan sering berkaitan dengan kesulitan membaca dan kontrol perhatian. Namun ada juga manfaat: pengguna yang sering kadang memproses informasi lebih cepat. Untuk mengurangi risiko, peneliti menyarankan batasi waktu layar, tunda ponsel pintar, dan gunakan ponsel dasar jika perlu.
Kata-kata sulit
- penelitian — kegiatan mencari tahu dengan cara ilmiah
- remaja — orang muda antara masa anak dan dewasa
- longitudinal — studi atau data yang dipantau selama beberapa tahun
- memantau — melihat atau mengikuti sesuatu secara terus menerus
- kognitif — berkaitan dengan kemampuan berpikir dan ingatan
- kosakata — kumpulan kata yang diketahui atau dipakai seseorang
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu setuju dengan larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun? Mengapa?
- Bagaimana orang tua bisa membatasi waktu layar di rumah?
- Pernahkah kamu atau temanmu merasa kesulitan membaca karena sering memakai media sosial? Ceritakan singkat.
Artikel terkait
Nigeria Batalkan Kebijakan Bahasa Nasional, Bahasa Inggris Kembali Jadi Pengantar
Pemerintah Nigeria membatalkan Kebijakan Bahasa Nasional 2022 yang mewajibkan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada pendidikan awal. Keputusan mengembalikan bahasa Inggris sebagai satu-satunya pengantar dan memicu perdebatan luas di kalangan pendidik dan ahli bahasa.
Aplikasi 'Are You Dead Yet?' dan kesepian kaum muda di China
Aplikasi ponsel bernama “Are You Dead Yet?” tiba-tiba populer di Apple App Store China pada Januari 2026. Aplikasi ini meminta kontak darurat dan check-in rutin, dan menonjolkan kecemasan sosial di kalangan anak muda yang tinggal sendiri.
Pengemis Anak di Sahel Tengah
Kemiskinan dan ketidakamanan di Sahel Tengah membuat banyak anak mengemis di kota-kota besar seperti Niamey, Bamako dan Ouagadougou. Laporan dan organisasi lokal menunjukkan eksploitasi, keterlibatan sekolah Al-Quran, dan respons yang belum memadai dari pemerintah.