Tim peneliti yang dipimpin UC Riverside menerbitkan studi di Proceedings of the National Academy of Sciences. Mereka mengidentifikasi jaringan koneksi antara batang otak dan sumsum tulang belakang yang membantu mengendalikan gerakan tangan dan lengan. Sinyal untuk gerakan tangan sukarela berjalan tidak hanya langsung dari korteks ke sumsum tulang belakang, tetapi juga lewat pusat perantara di batang otak dan segmen teratas sumsum tulang belakang.
Untuk mempelajari hal ini, mereka memakai pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) pada tikus dan manusia. Pada tikus, hewan dilatih menekan tuas kecil dengan kaki depan. Pada manusia, relawan menggenggam sebuah perangkat dan menekannya dengan tingkat kekuatan berbeda menggunakan jari.
Pemindaian menunjukkan dua wilayah medula yang konsisten aktif dan sangat terhubung dengan area sensorimotor otak. Studi juga menunjukkan segmen servikal C3 dan C4 berfungsi sebagai perantara. Pemetaan jalur ini dapat menjadi dasar untuk terapi baru setelah stroke atau cedera neurologis lainnya.
Kata-kata sulit
- mengidentifikasi — menemukan dan menjelaskan sesuatu secara tepat
- batang otak — bagian otak di antara otak besar dan sumsum
- sumsum tulang belakang — jaringan saraf di dalam tulang belakang
- korteks — lapisan luar otak yang mengatur gerakan
- pencitraan — metode membuat gambar bagian tubuh
- medula — bagian bawah batang otak dekat sumsum
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa pemetaan jalur ini bisa membantu orang setelah stroke atau cedera?
- Mengapa peneliti memakai tikus dan manusia dalam penelitian ini?
- Apakah kamu setuju penggunaan fMRI untuk mempelajari gerakan? Mengapa?
Artikel terkait
Tikus CC023 dan kemungkinan hubungan antara infeksi virus dan ALS
Peneliti menemukan bahwa tikus strain CC023 merespons infeksi virus dengan cara yang mirip penyakit ALS pada manusia. Model tikus ini mungkin membantu menemukan penanda awal dan mendukung pengembangan pengobatan untuk ALS sporadis.
Transplantasi sel bantu kesehatan jantung setelah cedera sumsum tulang belakang
Para peneliti menguji transplantasi sel pada tikus untuk memperbaiki kontrol saraf atas tekanan darah dan denyut jantung setelah cedera sumsum tulang belakang. Hasil menunjukkan perbaikan saraf, namun respons hormon berlebih tetap ada.