Tim peneliti yang dipimpin UC Riverside menerbitkan studi di Proceedings of the National Academy of Sciences. Mereka mengidentifikasi jaringan koneksi antara batang otak dan sumsum tulang belakang yang membantu mengendalikan gerakan tangan dan lengan. Sinyal untuk gerakan tangan sukarela berjalan tidak hanya langsung dari korteks ke sumsum tulang belakang, tetapi juga lewat pusat perantara di batang otak dan segmen teratas sumsum tulang belakang.
Untuk mempelajari hal ini, mereka memakai pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) pada tikus dan manusia. Pada tikus, hewan dilatih menekan tuas kecil dengan kaki depan. Pada manusia, relawan menggenggam sebuah perangkat dan menekannya dengan tingkat kekuatan berbeda menggunakan jari.
Pemindaian menunjukkan dua wilayah medula yang konsisten aktif dan sangat terhubung dengan area sensorimotor otak. Studi juga menunjukkan segmen servikal C3 dan C4 berfungsi sebagai perantara. Pemetaan jalur ini dapat menjadi dasar untuk terapi baru setelah stroke atau cedera neurologis lainnya.
Kata-kata sulit
- mengidentifikasi — menemukan dan menjelaskan sesuatu secara tepat
- batang otak — bagian otak di antara otak besar dan sumsum
- sumsum tulang belakang — jaringan saraf di dalam tulang belakang
- korteks — lapisan luar otak yang mengatur gerakan
- pencitraan — metode membuat gambar bagian tubuh
- medula — bagian bawah batang otak dekat sumsum
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa pemetaan jalur ini bisa membantu orang setelah stroke atau cedera?
- Mengapa peneliti memakai tikus dan manusia dalam penelitian ini?
- Apakah kamu setuju penggunaan fMRI untuk mempelajari gerakan? Mengapa?
Artikel terkait
Energi pulsasi mungkin penyebab hidrosefalus
Penelitian yang dipimpin Michael Egnor di Stony Brook Medicine mengusulkan hidrosefalus disebabkan oleh kegagalan otak menyerap energi pulsasi detak jantung, bukan hanya malabsorpsi cairan serebrospinal. Temuan itu dipublikasikan di Journal of Neurosurgery: Pediatrics.
Sistem Pengenalan Semut Lebih Fleksibel dari Dugaan
Penelitian dari Rockefeller University menemukan bahwa semut perampok klonal dapat mengubah bau tubuhnya setelah lama berada di koloni asing, sehingga diterima sebagai anggota. Namun ada batas alami dan toleransi itu mudah hilang tanpa kontak terus-menerus.
Pencitraan Otak Menjelaskan PTSD pada Penanggapi WTC
Penelitian dengan pemindaian MRI pada penanggapi World Trade Center menemukan perbedaan struktur otak pada mereka yang punya PTSD. Temuan ini mendukung bukti biologis bahwa trauma memengaruhi integritas saraf dan bisa membantu diagnosis serta perawatan.