Peneliti dari Rockefeller University mempelajari semut perampok klonal, Ooceraea biroi. Karena semut ini berkembang biak secara aseksual, peneliti membuat garis genetik identik dan menyusunnya menjadi koloni percobaan untuk menguji pengenalan sosial.
Analisis kimia menunjukkan koloni memakai kumpulan senyawa lilin yang sama, tetapi dalam perbandingan berbeda sehingga bau koloni berbeda. Semut muda dengan profil kimia samar dimasukkan ke koloni asing, dan setelah sekitar satu bulan paparan terus-menerus, semut itu berbau seperti koloni asuh dan tidak lagi mendapat perlakuan agresif.
Ada batasnya: semut yang dipisah sejak telur tetap menunjukkan identitas bawaan. Toleransi yang dipelajari juga mudah hilang jika kontak dihentikan, tetapi pertemuan singkat dapat mempertahankannya.
Kata-kata sulit
- aseksual — perkembangbiakan tanpa sel kelamin dari dua induk
- garis genetik — kelompok organisme dengan susunan gen sama
- koloni — kelompok hewan hidup bersama di satu tempat
- senyawa — zat kimia yang terdiri dari beberapa unsur
- profil — gambaran jenis dan jumlah zat kimiaprofil kimia
- toleransi — kemampuan menerima atau tidak menyerang individu lain
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah kamu melihat semut di rumah? Bagaimana reaksimu saat melihat banyak semut?
- Menurutmu, mengapa pertemuan singkat bisa mempertahankan toleransi antar semut?
- Bagaimana cara manusia mengenali anggota kelompok sendiri dan kelompok lain?
Artikel terkait
Materi Gelap yang Meluruh Bisa Bantu Terbentuknya Lubang Hitam Awal
Penelitian menunjukkan peluruhan materi gelap bisa mengubah kimia galaksi pertama sehingga beberapa awan gas runtuh langsung menjadi lubang hitam, menjelaskan lubang hitam raksasa yang terlihat kurang dari satu miliar tahun setelah Dentuman Besar.
Kapal Penelitian Nansen Batal Survei di Perairan Sri Lanka
Kapal penelitian Norwegia Dr. Fridtjof Nansen membatalkan survei yang direncanakan di perairan Sri Lanka pada 2025 karena izin pemerintah terlambat. FAO menugaskan kapal itu ke Madagaskar dan para ilmuwan menyayangkan penundaan tersebut.