Penelitian yang dipublikasikan di Nature Metabolism menemukan bahwa hipotalamus dan sel-selnya mengatur nafsu makan. Neuron yang memberi sinyal kenyang punya kantong glikogen, yaitu cadangan energi yang bisa dipakai cepat.
Para peneliti memperlihatkan makanan kepada tikus di balik kawat sehingga hewan hanya bisa melihat dan mencium. Paparan itu mengaktifkan enzim glikogen sintase, yang membuat glikogen. Tikus yang direkayasa tanpa enzim ini mendekati makanan lebih jarang, makan lebih sedikit, dan tidak memproduksi insulin sebelum makan. Suntikan virus pada tikus dewasa menghasilkan efek yang sama, sehingga masalahnya bukan karena perkembangan awal.
Kata-kata sulit
- hipotalamus — Bagian otak yang mengatur nafsu makan
- neuron — Sel saraf yang mengirim sinyal di otak
- glikogen — Molekul cadangan energi dari gula di tubuh
- enzim — Protein yang membantu reaksi kimia di tubuh
- insulin — Hormon yang mengatur gula darah
- virus — Partikel kecil yang bisa menyebabkan infeksi
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah Anda pernah merasa nafsu makan berubah hanya karena melihat makanan? Ceritakan singkat.
- Mengapa penting mengetahui bagian otak yang mengatur nafsu makan?
- Menurut Anda, apa manfaat penelitian ini untuk kesehatan?
Artikel terkait
Beras Joha dari India Menunjukkan Potensi Melawan Diabetes
Penelitian di India menemukan bahwa beras harum tradisional Joha dapat menurunkan kadar gula dan melindungi jantung pada uji laboratorium dan percobaan pada tikus. Para peneliti mendorong promosi dan kebijakan untuk mendukung penanaman Joha.
Menargetkan Sirkuit Otak Kurangi Kambuh Opioid
Peneliti dari Washington State University melaporkan bahwa menargetkan sirkuit antara korteks prelimbik dan thalamus paraventrikular mengurangi perilaku mencari obat pada model praklinis opioid. Studi ini memakai kemogenetika dan optogenetika.
Pembatasan Kalori Ubah Protein Otot dan Tingkatkan Respons Insulin
Penelitian pada tikus usia 24 bulan menunjukkan pembatasan kalori 35% selama delapan minggu mengubah fosforilasi protein otot dan meningkatkan penyerapan glukosa yang dipicu insulin, dengan respons molekuler berbeda antara jantan dan betina.