- Para ilmuwan melihat bagaimana otak bersiap sebelum makan.
- Bau atau tampilan makanan membuat otak memberi sinyal.
- Otak mengirim sinyal ke pankreas sebelum makan.
- Pankreas lalu melepaskan insulin untuk persiapan makan.
- Beberapa sel di otak menyimpan cadangan glikogen.
- Peneliti memakai tikus dan memperlihatkan makanan di balik kawat.
- Ketika enzim pembuat glikogen hilang, respons antisipatif lemah.
- Lama-kelamaan tikus tanpa glikogen menjadi lebih gemuk.
- Gangguan ini juga menunjukkan tanda pradiabetes pada tikus.
- Hasil ini bisa membantu pengobatan obesitas dan diabetes.
Kata-kata sulit
- ilmuwan — orang yang melakukan penelitian tentang sains
- sinyal — tanda atau pesan dari tubuh atau organ
- pankreas — organ di perut yang mengeluarkan hormon
- insulin — hormon yang membantu tubuh menggunakan gula darah
- glikogen — bentuk cadangan gula yang disimpan sel
- enzim — protein yang membantu reaksi kimia di tubuh
- obesitas — kondisi tubuh dengan berat badan sangat berlebih
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu merasa lapar saat melihat atau mencium makanan?
- Pernahkah kamu melihat makanan di balik kawat atau kaca?
- Apakah menurutmu penelitian ini bisa membantu orang dengan diabetes?
Artikel terkait
Pola Makan Tradisional Afrika Kurangi Peradangan
Studi gabungan menemukan bahwa beralih ke pola makan tradisional Afrika menurunkan peradangan dan memperkuat respons kekebalan, sedangkan pola makan Barat meningkatkan peradangan. Hasil ini relevan untuk kenaikan penyakit tidak menular di Sub-Sahara Afrika.
Respons terhadap Kesalahan Memprediksi Perilaku Menghindar
Peneliti menemukan bahwa cara orang merespons kesalahan dapat memprediksi kecenderungan menghindar. Studi mengikuti peserta dengan gejala kecemasan dan depresi, mengukur aktivitas otak setelah kesalahan dan kembali satu tahun kemudian.
Memperkuat Ritme Sirkadian Bantu Pemulihan Otak Setelah Stroke
Studi pada model tikus yang diterbitkan di Journal of Clinical Investigation menemukan bahwa intervensi yang menguatkan ritme sirkadian meningkatkan aliran glimfatik dan membantu pemulihan otak setelah stroke. Hasil ini masih perlu diuji pada manusia.