Penelitian gabungan antara universitas di Belanda dan di Tanzania menemukan bahwa pola makan tradisional Afrika dapat menurunkan peradangan dan melindungi terhadap penyakit kronis dalam waktu singkat. Sebaliknya, perubahan singkat ke pola makan Barat meningkatkan peradangan dan melemahkan respons kekebalan.
Uji klinis melibatkan 77 pria sehat dari Tanzania, dari kota dan pedesaan. Mereka mengikuti beberapa pola makan berbeda selama dua minggu, termasuk pola makan tradisional berbasis tanaman, pola makan Barat, konsumsi harian minuman pisang fermentasi yang disebut mbege, dan kelompok kontrol yang mempertahankan makan biasa.
Peneliti mengukur fungsi kekebalan, penanda peradangan dalam darah, dan proses metabolik. Beberapa perubahan tetap terlihat beberapa minggu setelah intervensi berakhir.
Kata-kata sulit
- peradangan — reaksi tubuh yang menyebabkan bengkak atau nyeri
- pola makan — kebiasaan memilih dan mengonsumsi makanan sehari-hari
- kronis — penyakit yang berlangsung lama dan tidak cepat sembuh
- uji klinis — percobaan pada manusia untuk menilai pengobatan
- kekebalan — kemampuan tubuh melawan penyakit dan infeksi
- fermentasi — proses mengubah makanan dengan bantuan mikroorganisme
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu pernah mencoba minuman fermentasi seperti mbege? Ceritakan singkat.
- Apakah kamu mau mencoba pola makan tradisional jika itu menurunkan peradangan? Mengapa atau mengapa tidak?
- Menurutmu, cukupkah dua minggu untuk melihat perubahan kesehatan? Mengapa?
Artikel terkait
Imunisasi RSV Sepanjang Tahun Kurangi Risiko Wabah Musiman
Sebuah studi menemukan bahwa akses imunisasi RSV sepanjang tahun dapat mengurangi kemungkinan wabah musiman besar di AS. Peneliti membandingkan pola di kota dan desa dan merekomendasikan vaksinasi kapan saja untuk wanita hamil dan anak kecil.
Kolera 2024: Penyebaran, Penyebab, dan Upaya Pengendalian
Kolera menyebar lewat air tercemar dan tetap menjadi ancaman karena konflik, perubahan iklim, dan sistem kesehatan yang runtuh. Pada 2024 dilaporkan 560,823 kasus dan 6,028 kematian; WHO menargetkan pengurangan lewat pencegahan dan vaksin.