Tim yang dipimpin oleh Annmarie MacNamara di departemen ilmu psikologi dan ilmu otak meneliti hubungan antara respons terhadap kesalahan dan perubahan gejala. Studi ini melibatkan 74 peserta dengan gejala kecemasan, depresi, PTSD, atau OCD.
Para peneliti mengukur aktivitas otak setiap peserta segera setelah membuat kesalahan, lalu mengukur respons yang sama lagi satu tahun kemudian. Desain ini memungkinkan perbandingan reaksi awal dan perubahan yang terjadi.
Temuan utama adalah fenomena "blunting", yaitu berkurangnya respons emosional otak terhadap kesalahan dari waktu ke waktu. Peserta yang bereaksi sangat emosional pada awal dan kemudian mengalami blunting cenderung menjadi lebih menghindar. Para penulis mengatakan hasil ini dapat membantu klinisi memahami mengapa gejala memburuk pada sebagian orang.
Kata-kata sulit
- meneliti — mencari informasi dengan cara sistematis
- respons — tanggapan tubuh atau pikiran terhadap sesuatu
- perubahan — pergeseran keadaan yang terjadi dari satu waktuperubahan gejala
- fenomena — peristiwa atau kejadian yang bisa diamati
- aktivitas otak — kegiatan listrik atau kimia di dalam otak
- menghindar — berusaha tidak menghadapi atau menjauhi sesuatu
- gejala — tanda atau keluhan yang menunjukkan penyakit
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurut Anda hasil tentang blunting bisa membantu klinisi dalam perawatan pasien?
- Mengapa seseorang yang awalnya bereaksi sangat emosional bisa menjadi lebih menghindar setelah blunting terjadi?
- Langkah sederhana apa yang bisa dilakukan terapis jika menemukan pasien menunjukkan blunting pada respons terhadap kesalahan?
Artikel terkait
Tes darah baru untuk menilai pengobatan glioblastoma
Peneliti mengembangkan tes darah yang mendeteksi partikel tumor setelah membuka sawar darah-otak. Metode ini menggunakan perangkat ultrasound dan alat bernama GlioExoChip untuk mengubah sampel darah menjadi biopsi cair dan menilai respons pengobatan.
Kecerdasan Terbentuk oleh Jaringan Otak yang Terkoordinasi
Peneliti memakai pencitraan otak untuk melihat bagaimana kecerdasan muncul. Mereka menemukan kecerdasan berasal dari kerja banyak bagian otak yang terintegrasi dan terkoordinasi, bukan dari satu wilayah tunggal, dan temuan ini punya implikasi untuk perkembangan dan sistem buatan.
Sel Korteks Retrosplenial untuk Menemukan Jalan Bertahan Selama Evolusi
Peneliti menemukan bahwa dua tipe sel otak di korteks retrosplenial, yang membantu navigasi, terjaga selama jutaan tahun evolusi. Studi membandingkan neuron tikus dan rat dan meneliti kaitannya dengan penyakit Alzheimer.
Tikus CC023 dan kemungkinan hubungan antara infeksi virus dan ALS
Peneliti menemukan bahwa tikus strain CC023 merespons infeksi virus dengan cara yang mirip penyakit ALS pada manusia. Model tikus ini mungkin membantu menemukan penanda awal dan mendukung pengembangan pengobatan untuk ALS sporadis.
Sensor Protein Baru Membuat Aktivitas Molekuler Terlihat oleh MRI
Peneliti di UC Santa Barbara mengembangkan sensor protein yang dikodekan secara genetik untuk membuat aktivitas molekuler terlihat lewat MRI. Sistem modular ini, bernama MAPPER, berpotensi membantu studi kanker, neurodegenerasi, dan peradangan.