Peneliti meneliti apakah otak memprediksi kata seperti model bahasa besar (LLM). Mereka menemukan perbedaan penting: otak mengantisipasi kata dengan mempertimbangkan kelompok tata bahasa, bukan hanya kemungkinan kata berikutnya.
Studi ini melakukan beberapa eksperimen dengan penutur bahasa Mandarin dan merekam aktivitas otak menggunakan magnetoensefalografi (MEG). Penelitian juga memakai tes Cloze, yaitu menghilangkan kata dari teks agar peserta mengisi bagian kosong.
Untuk membandingkan, peneliti pakai LLM dan mengukur keterdugaan kata dengan entropi dan surprisal. Analisis menunjukkan otak peka terhadap struktur frasa saat membuat prediksi.
Kata-kata sulit
- memprediksi — menebak atau memperkirakan sesuatu sebelum terjadi
- kelompok tata bahasa — kelas kata yang punya fungsi yang sama
- magnetoensefalografi — metode merekam aktivitas otak dengan medan magnet
- tes Cloze — uji untuk mengisi kata yang hilang dalam teks
- keterdugaan — seberapa besar kemungkinan sebuah kata muncul
- entropi — ukuran ketidakpastian atau variasi informasi
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu pernah mengerjakan tes mengisi kata yang hilang? Ceritakan singkat pengalamanmu.
- Mengapa menurutmu penting otak memperhatikan kelompok tata bahasa saat memprediksi kata?
- Menurutmu, apa perbedaan utama antara model bahasa dan otak manusia dalam memprediksi kata?
Artikel terkait
Tikus CC023 dan kemungkinan hubungan antara infeksi virus dan ALS
Peneliti menemukan bahwa tikus strain CC023 merespons infeksi virus dengan cara yang mirip penyakit ALS pada manusia. Model tikus ini mungkin membantu menemukan penanda awal dan mendukung pengembangan pengobatan untuk ALS sporadis.
Permainan Komputer Bantu Perbaiki Otak Setelah Cedera
Studi menunjukkan orang dewasa dengan cedera otak traumatik dapat memperbaiki struktur otak dan kemampuan berpikir dengan menyelesaikan permainan kognitif berbasis komputer. Perubahan terukur terlihat pada neuroplastisitas, kecepatan pemrosesan, perhatian, dan memori.
AI Membimbing Mahasiswa Bedah Saat Latihan Menjahit Luka
Para peneliti di Johns Hopkins mengembangkan AI yang menilai dan memberi umpan balik personal pada mahasiswa kedokteran saat berlatih menjahit luka. Studi acak dengan 12 mahasiswa menunjukkan manfaat terbesar bagi yang sudah punya dasar bedah.
AI Mempercepat Diagnostik Medis di Sub-Sahara Afrika
Kecerdasan buatan kini dipakai untuk diagnosis cepat di beberapa bagian sub-Sahara Afrika, termasuk deteksi malaria dan interpretasi rontgen. Proyek awal menunjukkan pengurangan pemberian antibiotik tidak tepat dan komplikasi malaria, namun regulasi dan privasi tetap penting.