Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications menunjukkan bahwa usap hidung sederhana dapat memberi gambaran awal tentang perubahan biologis terkait penyakit Alzheimer, sebelum munculnya gangguan berpikir dan memori. Metode ini mengumpulkan sel saraf pengindra bau dan sel kekebalan hidup dari bagian atas rongga hidung setelah penyemprotan anestesi lokal. Seorang klinisi memasukkan sikat sangat kecil ke tempat sel saraf pengindra bau berada, lalu ilmuwan mengukur gen mana yang aktif untuk memahami proses yang terjadi di otak.
Tim yang dipimpin oleh Bradley J. Goldstein dari Duke University School of Medicine membandingkan sampel dari 22 peserta. Mereka mengukur aktivitas ribuan gen di ratusan ribu sel individual, menghasilkan jutaan titik data. Dari data tersebut, skor gabungan gen jaringan hidung mampu memisahkan kasus Alzheimer dini dan Alzheimer klinis dari kontrol sehat sekitar 81% dari waktu. Usap hidung mendeteksi pergeseran awal pada sel saraf dan sel kekebalan, termasuk pada orang yang menunjukkan tanda laboratorium Alzheimer tetapi belum bergejala.
Salah satu peserta, Mary Umstead, ikut serta sebagai penghormatan kepada saudarinya yang didiagnosis young-onset Alzheimer pada usia 57 tahun. Tim Duke, bersama Duke & UNC Alzheimer’s Disease Research Center, memperluas penelitian ke kelompok yang lebih besar dan meneliti apakah usap ini dapat melacak efek pengobatan dari waktu ke waktu. Duke telah mengajukan paten AS untuk pendekatan ini, dan pendanaan penelitian berasal dari National Institutes of Health.