Penelitian ini, yang dipublikasikan di Journal of Neuropathology & Experimental Neurology, meneliti respons lima strain tikus terhadap Theiler’s murine encephalomyelitis virus (TMEV). Tim membandingkan peradangan pada sumsum tulang belakang antara tikus terinfeksi dan sehat, melihat perbedaan antar strain, mengukur jumlah virus, dan mengamati hubungan antara peradangan dan gejala klinis seperti kelumpuhan.
Ada empat temuan penting. Pertama, kerusakan saraf pada wilayah lumbar terdeteksi sejak dua minggu pertama dan kadang terlihat sejak hari keempat setelah infeksi. Kedua, meskipun virus akhirnya dibersihkan dari sumsum tulang belakang, tikus CC023 mengalami pemborosan otot permanen. Ketiga, lesi dan gejala pada CC023 sangat mirip dengan yang terlihat pada pasien ALS. Keempat, sel imun sangat aktif pada tahap awal, lalu aktivitas tersebut menurun setelah virus hilang.
Peneliti menyatakan model ini dapat membantu menemukan tanda peringatan awal dan mendukung pengembangan terapi untuk bentuk sporadis ALS yang paling umum.
Kata-kata sulit
- peradangan — reaksi tubuh dengan pembengkakan dan sel imun aktif
- sumsum tulang belakang — bagian dalam tulang yang mengandung serabut saraf
- pemborosan — kehilangan massa atau kekuatan otot
- lesi — kerusakan atau luka pada jaringan tubuh
- gejala klinis — tanda dan keluhan yang terlihat pada pasien
- sporadis — terjadi jarang dan tidak karena faktor keluarga
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Menurut teks, bagaimana model tikus ini bisa membantu penelitian tentang bentuk sporadis ALS?
- Bagaimana hubungan antara peradangan pada sumsum tulang belakang dan gejala klinis seperti kelumpuhan menurut artikel?
Artikel terkait
Gagandeep Kang: Vaksin Rotavirus dan Pencegahan Wabah di India
Gagandeep Kang meminta India menyiapkan alat untuk mencegah wabah virus dengan mengembangkan vaksin rotavirus buatan dalam negeri dan memperkuat surveilans. Ia menekankan pentingnya pemerataan vaksin, bukti ilmiah, dan komunikasi sains yang berkelanjutan.