Teknologi Mengubah Konflik Bersenjata di KolombiaCEFR B2
25 Apr 2026
Diadaptasi dari Liam Anderson, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh Jaime Maldonado, Unsplash
Kecerdasan buatan dan teknologi terkait sedang mengubah dinamika konflik bersenjata jangka panjang di Kolombia. Negara ini menghadapi kekerasan selama lebih dari enam dekade karena keberadaan beberapa kelompok bersenjata non-negara, ekonomi ilegal, dan ketimpangan regional yang mendalam. Teknologi baru yang lebih mudah diakses merombak praktik pengawasan, komunikasi, dan operasi di banyak wilayah.
Sejak 2024 beberapa kelompok bersenjata memodifikasi drone komersial untuk menyerang kantor polisi dan posisi militer dengan bahan peledak, yang menyebabkan ratusan personel berpakaian seragam terluka atau tewas. Perangkat berbiaya rendah ini tidak memakai kecerdasan buatan, tetapi menunjukkan bagaimana aktor dengan sumber daya terbatas dapat mengadaptasi alat komersial dan mengubah keseimbangan taktis. Dalam konflik lain, seperti di Ukraina dan yang terkait dengan Iran, drone muncul sebagai bagian dari sistem yang lebih kompleks dan produksi massal.
Pada 2025 pemerintah mulai membangun "national anti-drone shield", platform hibrida yang menggabungkan sensor khusus, sistem mikro-Doppler dan frekuensi radio, pengganggu sinyal, serta mekanisme penetralan fisik. Arsitektur ini memadukan sensor, algoritma pemrosesan data, dan pengambilan keputusan manusia untuk mendeteksi, menilai, dan menangkis ancaman. Institusi keamanan juga mengadopsi alat algoritmik: Police Service Model yang diadopsi pada 2024 bertujuan penempatan terfokus berdasarkan data waktu nyata, sementara Colombian Aerospace Force melaporkan penggunaan sistem pengawasan dan pengintaian yang memadukan sensor canggih dan pemrosesan data untuk membangun model risiko.
Manipulasi digital dan kontrol sosial meningkat sejak 2023, ketika audio dan video buatan kecerdasan buatan digunakan pada pemilihan regional dan bulan-bulan berikutnya untuk menyamar sebagai kandidat, tenaga medis, dan personel militer serta menyebarkan pesan dan ajakan protes. Grup komunitas di media sosial dikooptasi untuk menyebarkan foto dan profil pemimpin lokal, sedangkan grup WhatsApp tertutup dan profil anonim di Facebook memperkuat tuduhan yang berubah menjadi daftar hitam digital terkait ancaman, pemindahan paksa, dan pembunuhan yang disasar. Risiko utama bukan hanya pergeseran ke sistem otonom, melainkan bahwa alat ini membuat pengawasan lebih efisien, mempercepat disinformasi, dan berpotensi membuat intervensi negara menjadi lebih tidak setara.
Kata-kata sulit
- kecerdasan buatan — sistem komputer yang meniru kemampuan manusia
- drone — kendaraan udara tanpa awak yang dikendalikandrone komersial
- algoritma — langkah-langkah logis untuk menyelesaikan masalahalgoritma pemrosesan data
- pemrosesan — aksi mengolah data menjadi informasi bergunapemrosesan data
- penetralan — tindakan untuk menonaktifkan atau menghilangkan ancamanpenetralan fisik
- pengintaian — pengumpulan informasi militer atau keamanan dari jarak jauh
- disinformasi — informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menipu
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana penggunaan drone berbiaya rendah oleh kelompok bersenjata dapat mengubah strategi keamanan di daerah terpencil? Jelaskan dengan contoh dari teks.
- Apa dampak meningkatnya manipulasi digital dan profil palsu terhadap keselamatan pemimpin lokal dan komunitas menurut teks?
- Menurut teks, apa keuntungan dan risiko ketika algoritma dipadukan dengan pengambilan keputusan manusia dalam sistem pertahanan seperti "anti-drone shield"?
Artikel terkait
Remaja di Hong Kong Menggunakan Chatbot sebagai Teman Emosional
Laporan 12 Oktober 2025 menunjukkan remaja di Hong Kong memakai chatbot seperti Xingye dan Character.AI untuk dukungan emosional. Para ahli peringatkan risiko, dan beberapa pengembang mencoba membuat alat yang lebih aman.
Kekerasan Digital terhadap Jurnalis dan Aktivis Perempuan
Kekerasan digital terhadap jurnalis dan aktivis perempuan di Indonesia semakin terlihat dalam lima tahun terakhir. Serangan online meliputi doxing, manipulasi foto, peretasan dan DDoS; korban melaporkan perlindungan kelembagaan yang terbatas.