Sebuah perusahaan sosial bernama Live in Green, yang didirikan oleh pengungsi Solomon Bhaghabhonerano, mengubah sisa makanan dan sisa tanaman menjadi briket untuk memasak. Briket dibuat dari bahan seperti tongkol jagung, kulit pisang, dan serbuk gergaji. Proyek ini juga menjalankan pembibitan pohon dan membuat tungku masak untuk komunitas.
Awalnya pembibitan mulai pada 2016, lalu pada 2021 mereka beralih ke produksi briket. Banyak pengungsi ikut mengumpulkan dan mengolah limbah, sehingga ada pekerjaan baru. Beberapa bantuan dari organisasi lain membantu proyek memperbaiki desain dan memperluas jangkauan.
Kata-kata sulit
- pengungsi — orang yang meninggalkan negaranya karena bahaya
- briket — bentuk padat bahan bakar untuk memasak
- pembibitan — tempat atau kegiatan menanam bibit pohon
- tungku masak — peralatan untuk memasak menggunakan api
- limbah — sisa atau buangan yang tidak dipakai lagi
- mengolah — mengubah bahan mentah menjadi produk baru
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurutmu membuat briket dari sisa makanan ide yang baik? Mengapa?
- Pernahkah kamu atau orang di lingkunganmu mengolah limbah menjadi sesuatu yang berguna? Ceritakan singkat.
Artikel terkait
Pelanggaran Aturan Wisata Hiu Paus di El Azul
Studi dengan rekaman drone (2016 dan 2022) menemukan bahwa perahu wisata dan perenang sering melanggar aturan di El Azul, lokasi hiu paus seluas 400 km². Penulis merekomendasikan pengawasan lebih baik, regulasi diri pemandu, dan investasi jangka panjang.
Paparan PFAS Melemahkan Kekebalan Orang Dewasa
Studi menemukan paparan PFAS lewat air minum terkait dengan produksi antibodi yang lebih rendah saat tubuh menghadapi virus baru. Hasil ini memicu kekhawatiran tentang paparan jangka panjang dan dukungan untuk pengawasan serta regulasi air.