Sebuah perusahaan sosial bernama Live in Green, yang didirikan oleh pengungsi Solomon Bhaghabhonerano, mengubah sisa makanan dan sisa tanaman menjadi briket untuk memasak. Briket dibuat dari bahan seperti tongkol jagung, kulit pisang, dan serbuk gergaji. Proyek ini juga menjalankan pembibitan pohon dan membuat tungku masak untuk komunitas.
Awalnya pembibitan mulai pada 2016, lalu pada 2021 mereka beralih ke produksi briket. Banyak pengungsi ikut mengumpulkan dan mengolah limbah, sehingga ada pekerjaan baru. Beberapa bantuan dari organisasi lain membantu proyek memperbaiki desain dan memperluas jangkauan.
Kata-kata sulit
- pengungsi — orang yang meninggalkan negaranya karena bahaya
- briket — bentuk padat bahan bakar untuk memasak
- pembibitan — tempat atau kegiatan menanam bibit pohon
- tungku masak — peralatan untuk memasak menggunakan api
- limbah — sisa atau buangan yang tidak dipakai lagi
- mengolah — mengubah bahan mentah menjadi produk baru
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurutmu membuat briket dari sisa makanan ide yang baik? Mengapa?
- Pernahkah kamu atau orang di lingkunganmu mengolah limbah menjadi sesuatu yang berguna? Ceritakan singkat.
Artikel terkait
Pusat Data, AI, dan Tekanan Terhadap Pasokan Air di Batam
Pertumbuhan AI mendorong pembangunan pusat data di Indonesia dan kebutuhan infrastruktur. Di Batam, banyak fasilitas baru memicu kekhawatiran tentang pasokan air dan protes warga; pembuat kebijakan mendapat tekanan untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan keberlanjutan.
Lapangan Tenis Tanah Liat Hijau Menyerap Karbon
Penelitian menunjukkan lapangan tenis tanah liat hijau di AS dapat menyerap karbon dioksida melalui pelapukan batu basalt. Para peneliti menganalisis banyak lapangan dan menghitung emisi dari penambangan, konstruksi, transportasi, dan pemeliharaan.
Perjanjian Perikanan China dan Dampaknya di Mauritania
Pada 2010 sebuah perusahaan China menandatangani perjanjian panjang dengan Mauritania untuk investasi dan hak penangkapan. Kehadiran banyak kapal industri mengurangi hasil nelayan lokal, dan LSM meminta perlindungan pesisir sementara kebijakan belum jelas.