Sebuah perusahaan sosial bernama Live in Green, yang didirikan oleh pengungsi Solomon Bhaghabhonerano, mengubah sisa makanan dan sisa tanaman menjadi briket untuk memasak. Briket dibuat dari bahan seperti tongkol jagung, kulit pisang, dan serbuk gergaji. Proyek ini juga menjalankan pembibitan pohon dan membuat tungku masak untuk komunitas.
Awalnya pembibitan mulai pada 2016, lalu pada 2021 mereka beralih ke produksi briket. Banyak pengungsi ikut mengumpulkan dan mengolah limbah, sehingga ada pekerjaan baru. Beberapa bantuan dari organisasi lain membantu proyek memperbaiki desain dan memperluas jangkauan.
Kata-kata sulit
- pengungsi — orang yang meninggalkan negaranya karena bahaya
- briket — bentuk padat bahan bakar untuk memasak
- pembibitan — tempat atau kegiatan menanam bibit pohon
- tungku masak — peralatan untuk memasak menggunakan api
- limbah — sisa atau buangan yang tidak dipakai lagi
- mengolah — mengubah bahan mentah menjadi produk baru
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurutmu membuat briket dari sisa makanan ide yang baik? Mengapa?
- Pernahkah kamu atau orang di lingkunganmu mengolah limbah menjadi sesuatu yang berguna? Ceritakan singkat.
Artikel terkait
Metode Baru Ubah Lumpur Menjadi Gas Alam Terbarukan
Studi uji coba menemukan pra-perlakuan lumpur plus bakteri khusus menghasilkan lebih banyak gas alam terbarukan dan menurunkan biaya pengolahan. Temuan ini dapat membantu pengolahan limbah lebih berkelanjutan dan menyediakan bahan bakar pengganti gas fosil.
GIA dan Komunitas Transgender Pakistan: dari Hak ke Keadilan Iklim
Komunitas transgender Pakistan menghadapi diskriminasi lama meski ada perubahan hukum. Organisasi Gender Interactive Alliance (GIA) bekerja memberi layanan, meluncurkan proyek daur ulang dan menghubungkan kesetaraan dengan masalah iklim sejak 2024.