Sebuah perusahaan sosial bernama Live in Green, yang didirikan oleh pengungsi Solomon Bhaghabhonerano, mengubah sisa makanan dan sisa tanaman menjadi briket untuk memasak. Briket dibuat dari bahan seperti tongkol jagung, kulit pisang, dan serbuk gergaji. Proyek ini juga menjalankan pembibitan pohon dan membuat tungku masak untuk komunitas.
Awalnya pembibitan mulai pada 2016, lalu pada 2021 mereka beralih ke produksi briket. Banyak pengungsi ikut mengumpulkan dan mengolah limbah, sehingga ada pekerjaan baru. Beberapa bantuan dari organisasi lain membantu proyek memperbaiki desain dan memperluas jangkauan.
Kata-kata sulit
- pengungsi — orang yang meninggalkan negaranya karena bahaya
- briket — bentuk padat bahan bakar untuk memasak
- pembibitan — tempat atau kegiatan menanam bibit pohon
- tungku masak — peralatan untuk memasak menggunakan api
- limbah — sisa atau buangan yang tidak dipakai lagi
- mengolah — mengubah bahan mentah menjadi produk baru
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurutmu membuat briket dari sisa makanan ide yang baik? Mengapa?
- Pernahkah kamu atau orang di lingkunganmu mengolah limbah menjadi sesuatu yang berguna? Ceritakan singkat.
Artikel terkait
Bactery: Baterai dari Bakteri Tanah untuk Pertanian
Spin-out dari University of Bath mengembangkan Bactery, baterai yang memanfaatkan bakteri tanah untuk memberi daya sensor dan perangkat IoT di lahan pertanian dengan pasokan listrik sulit. Prototipe diuji sejak 2019 dan perusahaan menargetkan produksi kecil tahun 2026.
Letusan Hunga Tonga bantu hilangkan metana
Letusan bawah laut Hunga Tonga–Hunga Ha’apai pada Januari 2022 menghasilkan plume yang tampaknya menghancurkan sebagian metana. Pengamatan satelit melihat formaldehida tinggi dan melacak awan itu selama 10 hari, yang memberi informasi baru tentang pemanasan global.