Peneliti dari beberapa universitas dan akademi sains menyelidiki arsenik pada padi. Mereka menemukan bahwa suhu yang naik bersamaan dengan kadar CO2 yang lebih tinggi membuat arsenik anorganik dalam biji padi meningkat.
Arsenik anorganik dapat menyebabkan kanker paru-paru, kandung kemih, dan kulit, serta terkait penyakit jantung dan diabetes. Karena nasi adalah makanan pokok di banyak negara, kenaikan arsenik dapat meningkatkan risiko penyakit terutama di Asia pada 2050. Para peneliti menyarankan perbaikan cara menanam, pengolahan beras, dan edukasi kesehatan untuk mengurangi dampak.
Kata-kata sulit
- arsenik — unsur kimia beracun yang dapat mencemari makananarsenik anorganik
- kadar — jumlah suatu zat dalam udara atau makanan
- suhu — tingkat panas atau dingin di udara atau tempat
- meningkat — jadi lebih tinggi atau bertambah dari sebelumnya
- pengolahan — proses menyiapkan atau mengubah bahan menjadi produk
- risiko — kemungkinan terjadinya suatu efek buruk pada kesehatan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah Anda sering makan nasi? Mengapa atau mengapa tidak?
- Menurut Anda, apa satu cara sederhana untuk mengurangi arsenik pada beras di rumah?
- Bagaimana cara terbaik memberi edukasi kesehatan tentang makanan di desa atau sekolah?
Artikel terkait
Pendingin murah kurangi bahaya panas di pabrik garmen Bangladesh
Studi yang dipimpin University of Sydney dan diterbitkan 20 Oktober menguji langkah pendinginan berbiaya rendah untuk pekerja pabrik garmen Bangladesh. Kipas, dorongan minum air, dan atap berinsulasi memperbaiki kesehatan dan produktivitas.
Vivien Sansour dan Perpustakaan Benih Palestina
Vivien Sansour mendirikan Perpustakaan Benih Warisan Palestina untuk menyelamatkan benih, tanaman, dan kisah pangan. Proyek itu berbasis di Battir dan menuntut perlindungan budaya serta pengetahuan pertanian di tengah penghancuran lahan.
Kolera 2024: Penyebaran, Penyebab, dan Upaya Pengendalian
Kolera menyebar lewat air tercemar dan tetap menjadi ancaman karena konflik, perubahan iklim, dan sistem kesehatan yang runtuh. Pada 2024 dilaporkan 560,823 kasus dan 6,028 kematian; WHO menargetkan pengurangan lewat pencegahan dan vaksin.