Studi yang diterbitkan di jurnal internasional menelaah bagaimana permintaan untuk layanan pemenuhan jarak akhir berubah di Amerika Serikat antara 2010 dan 2023. Peneliti, termasuk Micah Marzolf dari Iowa State University bersama rekan dari Michigan State University, menganalisis jutaan transaksi dari panel besar untuk melihat pola penggunaan pengantaran ke rumah.
Hasil menunjukkan perbedaan geografis yang konsisten: area perkotaan mengadopsi pengantaran lebih cepat dan dalam skala lebih besar daripada area pedesaan. Antara 2010 dan 2019 permintaan naik di seluruh negeri, tetapi meningkat jauh lebih cepat di kota-kota besar. Pada 2020, saat COVID-19 tiba, belanja online melonjak terutama di perkotaan dan tingkat permintaan tetap tinggi sampai 2023.
Para peneliti mendefinisikan layanan pemenuhan jarak akhir sebagai langkah terakhir untuk mengantarkan produk dari gudang ke rumah pelanggan. Mereka menunjukkan beberapa alasan praktis untuk kesenjangan ini: kemacetan dan keterbatasan parkir di kota, volume pesanan yang memungkinkan opsi lebih cepat dan lebih murah, serta kecenderungan konsumen pedesaan melakukan perjalanan sendiri dan menghadapi waktu tunggu lebih lama. Bahkan setelah memperhitungkan keberadaan pusat pemenuhan Amazon, adopsi di pedesaan tetap lebih lambat.
Studi menyimpulkan bahwa permintaan yang dikuasai perkotaan akan mendorong investasi pada pusat pemenuhan di kota, mikrogudang, loker paket, dan pemenuhan berbasis toko. Dampaknya akan terlihat pada lokasi gudang, pasar yang mendapat opsi pengantaran premium, dan peran berkelanjutan toko tradisional bagi perekonomian lokal. Seperti dikatakan oleh Marzolf, "Pengantaran jarak akhir adalah momen kebenaran."