Penyakit Parkinson secara bertahap merusak sel otak yang mengendalikan gerak. Pada saat gejala muncul, banyak sel otak sudah hilang, sehingga deteksi awal menjadi penting.
Dalam studi baru, peneliti memakai tomografi emisi positron (PET) untuk mengukur dua penanda otak: transporter dopamin dan kepadatan sinaptik. Transporter dopamin membantu mengambil dopamin, sedangkan kepadatan sinaptik menunjukkan kesehatan koneksi antar sel.
Pada orang sehat kedua penanda itu naik dan turun bersama di striatum. Pada pasien Parkinson hubungan ini rusak. Para peneliti menyimpulkan bahwa mengombinasikan beberapa penanda memberikan gambaran perkembangan penyakit yang lebih jelas dibandingkan satu tes saja.
Kata-kata sulit
- penanda — sesuatu yang menunjukkan keadaan tubuh atau otak
- tomografi emisi positron — pemeriksaan medis yang membuat gambar bagian dalam tubuh
- transporter dopamin — protein yang mengambil kembali dopamin di otak
- kepadatan sinaptik — jumlah sambungan antar sel saraf dalam otak
- deteksi awal — proses menemukan penyakit sedini mungkin
- striatum — bagian otak yang terlibat dalam pengaturan gerak
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana perasaanmu mengetahui banyak sel otak hilang sebelum gejala muncul?
- Mengapa menurutmu menggabungkan beberapa penanda bisa membantu diagnosa penyakit?
Artikel terkait
Diet ketogenik bantu respons olahraga pada gula darah tinggi
Sebuah studi pada tikus menemukan diet ketogenik menurunkan gula darah dan membuat otot lebih siap untuk latihan aerobik. Peneliti ingin menguji apakah orang juga mendapat manfaat serupa dan mencatat diet keto bisa sulit diikuti.
Merokok kanabis dan diet olahan tingkatkan risiko masalah jantung
Studi laboratorium menemukan merokok hemp (kanabis) dapat melemahkan jantung dan risikonya lebih besar jika orang makan banyak makanan olahan tinggi minyak biji. Kombinasi itu juga melemahkan sistem kekebalan dan perbaikan tubuh.
Pola pikir "semua-atau-tidak sama sekali" pada olahraga
Peneliti menemukan bahwa pola pikir "semua-atau-tidak sama sekali" membuat orang meninggalkan rencana olahraga. Studi ini mengidentifikasi empat unsur pola pikir itu dan memberi saran berpikir ulang agar orang lebih konsisten berolahraga.