Para peneliti melakukan tiga studi dengan ratusan orang dewasa di AS. Peserta membaca deskripsi singkat tentang perilaku sehari-hari oleh tokoh fiksi. Contohnya termasuk menolong atau menolak menolong anggota keluarga, mengikuti atau melanggar aturan, dan memperlakukan orang secara setara atau menunjukkan favoritisme.
Untuk setiap contoh, peserta diminta menilai apakah perilaku itu mencerminkan karakter orang atau dipengaruhi situasi. Mereka juga menilai apakah mereka akan mempercayai orang itu. Dalam studi terakhir, peserta melakukan tugas pengalih perhatian, yaitu menghafal deretan angka panjang, sambil membuat penilaian.
Hasil utama menunjukkan bahwa tindakan yang berkaitan dengan keadilan dan menghormati kepemilikan menimbulkan reaksi paling kuat untuk kepercayaan dan atribusi karakter.
Kata-kata sulit
- peneliti — orang yang melakukan penelitian atau studi
- peserta — orang yang ikut dalam sebuah studi atau kegiatan
- perilaku — tindakan atau cara bertindak sehari-hari seseorang
- menilai — memberi penilaian atau memutuskan tentang sesuatu
- kepercayaan — keyakinan bahwa seseorang dapat dipercaya
- atribusi — tindakan mengatakan penyebab sifat atau perilaku
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah Anda menilai karakter seseorang berdasarkan tindakannya? Jelaskan singkat.
- Apa contoh situasi yang menurut Anda bisa mempengaruhi perilaku seseorang?
- Apakah Anda lebih mempercayai orang yang adil? Mengapa atau mengapa tidak?
Artikel terkait
Melihat Ketidakpastian sebagai Peluang
Penelitian ETH Zurich menguji apakah memandang ketidakpastian sebagai peluang mengubah sikap politik. Setelah presentasi singkat, peserta lebih positif terhadap keberagaman, lebih mendukung perubahan sosial, dan lebih kecil kemungkinan memilih AfD.
Resesi 2008 Mengubah Identitas Kelas Orang Amerika
Penelitian UC Riverside menemukan resesi 2008 membuat banyak orang Amerika melihat diri mereka sebagai kelas sosial lebih rendah, dan perubahan itu bertahan lama. Studi memakai data panjang dari puluhan ribu orang untuk mengukur efek jangka panjang.
Pola pikir "semua-atau-tidak sama sekali" pada olahraga
Peneliti menemukan bahwa pola pikir "semua-atau-tidak sama sekali" membuat orang meninggalkan rencana olahraga. Studi ini mengidentifikasi empat unsur pola pikir itu dan memberi saran berpikir ulang agar orang lebih konsisten berolahraga.