Nathan Crook, Profesor Madya di North Carolina State University, mengatakan ragi adalah platform yang menjanjikan untuk membuat dan melepaskan molekul terapeutik di dalam usus. Tim menitikberatkan penelitian pada Saccharomyces boulardii (Sb) karena Sb sudah dipakai sebagai probiotik.
Untuk mengetahui gen mana yang aktif, para peneliti memasukkan strain Sb siap pakai yang tidak dimodifikasi secara genetik ke tikus laboratorium bebas kuman. Karena tikus itu tidak memiliki mikrobioma, RNA ragi lebih mudah diidentifikasi, lalu tim menggunakan kombinasi teknik pengambilan sampel dan analisis untuk mengukur RNA tersebut.
Salah satu temuan penting adalah identifikasi promotor DNA yang lebih aktif di usus. Promotor ini bisa berfungsi sebagai saklar agar ragi mulai memproduksi molekul terapeutik pada waktu yang tepat. Mereka juga menemukan gen yang terkait dengan perilaku berpotensi patogen tidak aktif, yang memperkuat profil keamanan Sb.
Selain itu, aktivitas gen menunjukkan Sb tampak mencerna lebih banyak lipid daripada karbohidrat, sehingga tim menyarankan modifikasi agar ragi bisa memanfaatkan karbohidrat kompleks di usus.
Kata-kata sulit
- terapeutik — untuk mengobati atau mengurangi gejala penyakit
- promotor — bagian DNA yang mengatur aktivitas gen
- mikrobioma — kumpulan mikroorganisme yang hidup di tubuh
- gen — unit pewarisan bahan genetik dalam sel
- patogen — organisme yang menyebabkan penyakit pada makhluk hidup
- lipid — zat lemak yang ditemukan dalam sel dan makanan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Menurut Anda, apa keuntungan menggunakan Sb yang sudah dipakai sebagai probiotik?
- Mengapa penting jika Sb dimodifikasi agar dapat memanfaatkan karbohidrat kompleks di usus, dan apa kemungkinan efeknya pada kesehatan?
Artikel terkait
Splicing alternatif terkait umur pada 26 spesies mamalia
Studi di Nature Communications membandingkan splicing alternatif pada 26 spesies mamalia (usia 2.2–37 tahun). Hasil menunjukkan pola splicing, terutama di otak, berhubungan dengan usia maksimal dan dikendalikan oleh protein pengikat RNA.
Mengapa nyeri kronis lebih lama pada wanita
Penelitian menemukan perbedaan pada sel imun bernama monosit yang membuat molekul pereda nyeri (IL-10). Monosit penghasil IL-10 lebih aktif pada pria, terkait hormon seks seperti testosteron, dan ini bisa menjelaskan nyeri yang berlangsung lama pada wanita.