Para peneliti meneliti ragi Saccharomyces boulardii (Sb). Mereka memilih Sb karena sudah dipakai sebagai probiotik, tetapi perilaku biokemisnya di usus belum dipahami dengan baik.
Untuk percobaan, tim memakai strain Sb siap pakai yang tidak dimodifikasi secara genetik. Mereka memasukkan ragi itu ke tikus laboratorium bebas kuman dan mengumpulkan sampel feses serta bagian usus.
Peneliti mengukur RNA ragi saat melewati usus untuk melihat gen mana aktif. Mereka menemukan bagian DNA (promotor) yang lebih aktif di usus dan juga gen yang terkait dengan perilaku patogen yang tidak aktif.
Kata-kata sulit
- ragi — organisme mikroskopis yang membuat fermentasi
- probiotik — mikroba yang baik untuk kesehatan usus
- promotor — bagian DNA yang mengatur aktivitas gen
- memodifikasi — mengubah sesuatu secara buatan oleh manusiadimodifikasi
- bebas kuman — tidak ada mikroba atau kuman di tempat
- feses — bahan padat yang keluar dari usus
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu pernah mengonsumsi produk yang mengandung probiotik? Jelaskan singkat.
- Mengapa penting mengetahui perilaku mikroba di usus menurutmu?
- Setuju atau tidak percobaan dengan tikus dipakai untuk penelitian seperti ini? Mengapa?
Artikel terkait
Usap Hidung Dapat Mendeteksi Alzheimer Lebih Awal
Studi yang dipublikasikan di Nature Communications menemukan bahwa usap hidung sederhana bisa mendeteksi perubahan biologis awal terkait Alzheimer sebelum gangguan memori muncul. Metode ini mengambil sel saraf dan sel kekebalan dari rongga hidung.
Latihan Intens Tingkatkan Tidur pada Lansia dengan Gangguan Kognitif Ringan
Studi oleh peneliti Texas A&M menggunakan Oura Rings pada tujuh lansia dengan gangguan kognitif ringan selama 14 hari. Hasil menunjukkan latihan intens paling membantu tidur; latihan ringan sedikit membantu, sedangkan latihan sedang tidak signifikan.
Sensor Protein Baru Membuat Aktivitas Molekuler Terlihat oleh MRI
Peneliti di UC Santa Barbara mengembangkan sensor protein yang dikodekan secara genetik untuk membuat aktivitas molekuler terlihat lewat MRI. Sistem modular ini, bernama MAPPER, berpotensi membantu studi kanker, neurodegenerasi, dan peradangan.