Para peneliti menemukan bahwa tikus kayu, hewan pengerat kecil, tahan terhadap bisa ular derik. Hewan ini dapat selamat dari gigitan yang pada manusia bisa menyebabkan rawat inap atau kematian. Penelitian memusatkan perhatian pada keluarga gen SERPINs, khususnya gen SERPINA3 yang kurang dipahami.
Tim peneliti menemukan banyak salinan SERPINA3 pada tikus itu, muncul melalui duplikasi tandem di genom. Mereka menguji protein yang dikodekan oleh gen-gen itu dengan sampel bisa dari ular derik yang memangsa tikus. Banyak protein langsung mengikat komponen bisa dan memblokir efek toksiknya, meskipun aktivitas protein berbeda-beda.
Kata-kata sulit
- pengerat — Hewan kecil dengan gigi tajam, seperti tikus
- tahan — Tidak mudah sakit atau mati karena sesuatu
- duplikasi — Proses membuat salinan bagian materi genetik
- genom — Seluruh materi genetik dalam satu organisme
- ikat — Menempelkan atau menyambungkan dua bagian bersamamengikat
- blokir — Menghentikan atau melawan kerja sesuatumemblokir
- toksik — Beracun dan dapat merusak tubuh makhluk hiduptoksiknya
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa menurutmu para peneliti menguji protein dengan sampel bisa ular?
- Pernahkah kamu melihat tikus di dekat rumah? Ceritakan satu kalimat pengalamanmu.
Artikel terkait
Virtual Vet: Permainan untuk Belajar Sains dan Penalaran
Peneliti di University of Georgia merancang permainan Virtual Vet untuk membantu siswa sekolah dasar berlatih anatomi, kesehatan, dan keterampilan penalaran. Uji coba menunjukkan anak yang memainkan permainan memperoleh skor lebih tinggi dibanding metode kelas tradisional.
Sains warga bantu pantau kesehatan dan SDG
Tinjauan ilmiah menemukan sains warga dapat membantu memantau indikator kesehatan dan kesejahteraan yang terkait SDG dan Target Triple Billion WHO. Studi ini menunjukkan potensi besar, contoh praktik, serta tantangan kualitas dan partisipasi.
Otak dan suara: mengapa anjing laut bisa meniru
Studi yang diterbitkan di Science dan dipimpin oleh Emory University serta New College of Florida menemukan jalur saraf pada otak yang menjelaskan mengapa beberapa anjing laut mampu mengontrol dan meniru suara, sementara anjing liar biasanya tidak.