Para peneliti menemukan bahwa tikus kayu, hewan pengerat kecil, tahan terhadap bisa ular derik. Hewan ini dapat selamat dari gigitan yang pada manusia bisa menyebabkan rawat inap atau kematian. Penelitian memusatkan perhatian pada keluarga gen SERPINs, khususnya gen SERPINA3 yang kurang dipahami.
Tim peneliti menemukan banyak salinan SERPINA3 pada tikus itu, muncul melalui duplikasi tandem di genom. Mereka menguji protein yang dikodekan oleh gen-gen itu dengan sampel bisa dari ular derik yang memangsa tikus. Banyak protein langsung mengikat komponen bisa dan memblokir efek toksiknya, meskipun aktivitas protein berbeda-beda.
Kata-kata sulit
- pengerat — Hewan kecil dengan gigi tajam, seperti tikus
- tahan — Tidak mudah sakit atau mati karena sesuatu
- duplikasi — Proses membuat salinan bagian materi genetik
- genom — Seluruh materi genetik dalam satu organisme
- ikat — Menempelkan atau menyambungkan dua bagian bersamamengikat
- blokir — Menghentikan atau melawan kerja sesuatumemblokir
- toksik — Beracun dan dapat merusak tubuh makhluk hiduptoksiknya
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa menurutmu para peneliti menguji protein dengan sampel bisa ular?
- Pernahkah kamu melihat tikus di dekat rumah? Ceritakan satu kalimat pengalamanmu.
Artikel terkait
Terapi gen dan tantangan penyakit sel sabit di Afrika
Penyakit sel sabit menyebabkan banyak kematian pada anak-anak di Sub-Sahara Afrika. Uganda mulai skrining bayi baru lahir secara gratis, namun terapi gen baru yang menjanjikan masih sangat mahal dan sulit diakses di banyak negara Afrika.
Algoritma menjelaskan perubahan propana jadi propilena
Tim di University of Rochester membuat algoritma yang menunjukkan fitur atomik penting saat katalis nanoskala mengubah propana menjadi propilena. Temuan ini menyoroti pertumbuhan oksida di situs logam cacat dan potensi aplikasi industri.
Studi: Uji Klinis Obat Kurang Mewakili Keberagaman AS
Peneliti dari University of California menelaah 341 uji penting (2017–2023) dan menemukan hanya 6% uji yang mencerminkan komposisi rasial dan etnis AS. Mereka menganalisis tren ketidakwakilan dan merekomendasikan peningkatan keberagaman sejak awal pengembangan obat.