Penelitian yang dipublikasikan di Molecular Biology and Evolution menjelaskan tingkat resistensi tikus kayu terhadap bisa ular derik. Hewan pengerat kecil ini, yang beratnya kurang dari setengah pon, dapat selamat dari gigitan berbisa yang berbahaya bagi manusia. Studi memeriksa keluarga gen SERPINs dan memfokuskan pada SERPINA3, gen yang sebelumnya kurang dipahami meskipun SERPINA1 telah ditunjukkan mampu menghambat beberapa bisa ular Eropa.
Tim yang dipimpin Matthew Holding dan co-lead Meilyn Ward di laboratorium David Ginsburg, University of Michigan Life Sciences Institute, menemukan tikus kayu membawa 12 salinan SERPINA3, sementara manusia hanya memiliki satu. Salinan tambahan itu muncul lewat duplikasi tandem, di mana salinan gen ekstra disisipkan ke dalam genom tanpa menghentikan fungsi gen asli. Para peneliti menguji protein yang dikodekan oleh setiap gen menggunakan sampel bisa dari ular derik pemangsa tikus; banyak protein langsung mengikat komponen bisa dan memblokir efek toksiknya, tetapi aktivitas protein sangat bervariasi. Beberapa protein tidak berinteraksi dengan bisa, sementara satu protein menghambat dua komponen berbeda yang mendasari toksisitas.
Penulis mencatat bahwa duplikasi tandem juga umum pada gen-gen yang mengkode bisa ular, sehingga ketika mangsa berevolusi resistensi, protein bisa dapat berubah dan bervariasi. Para penulis menyarankan bahwa duplikasi pada SERPINA3 mungkin merupakan bagian dari respons koevolusi. Holding mengatakan temuan ini menambah "satu alat lagi dalam kotak alat" pengerat untuk bertahan dari gigitan berbisa. Studi ini didukung oleh National Institutes of Health dan Honors Summer Fellowship dari University of Michigan. Penulis makalah termasuk Matthew Holding, Meilyn Ward, Laura Haynes, David Ginsburg, Mark Margres, dan Marjorie Matocq.
Kata-kata sulit
- resistensi — kemampuan bertahan terhadap pengaruh berbahaya
- duplikasi tandem — penyalinan gen tambahan yang disisipkan berdekatan
- koevolusi — evolusi bersama dua spesies yang saling memengaruhi
- genom — seluruh materi genetik dalam suatu organisme
- toksisitas — kemampuan suatu zat menyebabkan keracunan pada organisme
- menghambat — mencegah atau menurunkan aktivitas suatu proses
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurut Anda duplikasi gen pada tikus kayu dapat mengubah interaksi antara tikus dan ular derik dalam jangka panjang?
- Apakah temuan tentang SERPINA3 bisa memberi ide baru untuk penanganan atau obat terhadap gigitan ular pada manusia? Jelaskan alasan Anda.
- Penelitian menyebut aktivitas protein sangat bervariasi. Mengapa variasi aktivitas protein penting dalam proses koevolusi antara mangsa dan pemangsa?
Artikel terkait
Virtual Vet: Permainan untuk Belajar Sains dan Penalaran
Peneliti di University of Georgia merancang permainan Virtual Vet untuk membantu siswa sekolah dasar berlatih anatomi, kesehatan, dan keterampilan penalaran. Uji coba menunjukkan anak yang memainkan permainan memperoleh skor lebih tinggi dibanding metode kelas tradisional.
Pemimpin Sains Terbuka Dorong Akses Ilmiah yang Adil
Ana María Cetto, seorang fisikawan Meksiko, ditunjuk sebagai ketua komite Sains Terbuka UNESCO dan memperingatkan privatisasi ilmu pengetahuan. Ia mendukung platform regional seperti Latindex serta kebijakan untuk menjaga pengetahuan sebagai barang publik.
Medan Magnet Bumi Mendorong Partikel ke Bulan
Penelitian menunjukkan medan magnet Bumi mungkin membantu memindahkan partikel atmosfer ke permukaan Bulan. Simulasi komputer menemukan proses ini bisa menjelaskan keberadaan zat mudah menguap di tanah Bulan dan menyimpan catatan panjang tentang atmosfer Bumi.
Connie Nshemereirwe: Sains, Pendidikan, dan Kolaborasi di Afrika
Connie Nshemereirwe, spesialis pengukuran pendidikan dan mantan insinyur, mengajak penelitian di Afrika tumbuh dari akar rumput dan memperkuat hubungan antarilmuwan di global Selatan. Ia juga membahas komunikasi sains dan dampak penutupan sekolah selama pandemi.