Gelombang Protes Kaum Muda di Asia dan AfrikaCEFR A1
24 Nov 2025
Diadaptasi dari Forus, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh Leonardo Basso, Unsplash
- Ada protes kaum muda di Asia dan Afrika.
- Mereka memakai alat digital untuk berkumpul.
- Kaum muda sering disebut Gen Z.
- Di Nepal protes mulai April 2025.
- Video TikTok dan Discord memicu demonstrasi.
- Dalam tiga puluh jam pemerintahan runtuh.
- Mahabir Pun kemudian jadi menteri.
- Madagaskar protes besar pada 25 September 2025.
- Pasukan pakai gas air mata dan peluru karet.
- Kaum muda menuntut layanan dasar dan transparansi.
Kata-kata sulit
- pemuda — Orang muda atau remaja.
- protes — Tindakan mengekspresikan ketidaksetujuan.
- media sosial — Platform untuk berkomunikasi online.
- berkomunikasi — Proses bertukar informasi.
- perubahan — Proses menjadi berbeda atau baru.
- korupsi — Tindakan penyalahgunaan kekuasaan.
- suara — Pernyataan atau pendapat seseorang.
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Menurutmu, mengapa protes penting?
- Apa dampak protes terhadap masyarakat?
- Bagaimana media sosial membantu pemuda?
- Apa yang bisa dilakukan pemuda untuk perubahan?
Artikel terkait
Savar Ditetapkan Kawasan Udara Terdegradasi karena Polusi Kiln Batu Bata
Departemen Lingkungan menetapkan Savar Upazila sebagai kawasan udara terdegradasi setelah pemantauan menemukan kualitas udara hampir tiga kali lebih buruk dari standar nasional. Aturan baru mulai September 2025 melarang sebagian pembakaran dan meminta izin untuk pabrik baru.
Pemuda Afrika: Tantangan dan Peluang untuk Masa Depan
Populasi Afrika relatif muda dan terus tumbuh, menurut laporan UNICEF (2023). Beberapa negara membuat inisiatif digital dan pelatihan, namun tantangan besar tetap di pendidikan, pekerjaan formal, dan layanan kesehatan bagi generasi muda.
Calon Perempuan di Uganda Diserang Secara Daring
Dalam pemilu Januari 2026 beberapa calon perempuan Uganda menghadapi serangan online seperti gambar AI, deepfake, disinformasi, dan hinaan seksual. Teknologi memperkuat kekerasan yang sudah ada dan tidak ada undang-undang khusus untuk itu.