AI dan ketidakmerataan manfaatCEFR B2
7 Nov 2025
Diadaptasi dari Abdallah Abdallah, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh The New York Public Library, Unsplash
Kecerdasan buatan menjanjikan lonjakan produktivitas dan nilai ekonomi, tetapi distribusi keuntungan tetap timpang. Perdebatan tata kelola AI memisahkan banyak negara antara Global North dan Global South, dan terutama menimbulkan keprihatinan di Afrika tentang siapa yang akan mendapat manfaat serta apakah kontrol akan demokratis atau didominasi kepentingan bisnis. Sejarah hubungan teknologi juga penting; pola sejak era kolonial memengaruhi kapasitas negara menyesuaikan atau bergantung pada teknologi.
Secara ekonomi, World Economic Forum memperkirakan AI dapat menambah USD 15.7 trillion pada 2030, dengan negara berpenghasilan tinggi mendapatkan bagian terbesar. Di sisi infrastruktur, Afrika menghasilkan volume data yang besar tetapi hanya 2 persen dari pusat data global ada di benua itu. Di COSAA 2025 banyak peserta menyatakan skeptisisme tentang aliran manfaat, dan pekerja data serta pengemudi gig di Afrika menghadapi ketimpangan dibandingkan rekan di Global North.
Ada contoh konkret ketidaksetaraan kontrol: AFRINIC memberi hampir 7 juta alamat IPv4 yang kemudian dimiliki atau disewa oleh Cloud Innovation, perusahaan yang didirikan oleh Lu Heng dan terdaftar di Seychelles, sementara operasi utama berada di Asia. Di bidang perangkat keras, pada Januari 2025 pemerintahan AS mengeluarkan Interim Final Rule yang membatasi distribusi chip canggih dan menempatkan negara ke dalam Tier 1 (akses luas untuk lebih dari 90 persen negara di tier ini) dan Tier 2 (akses terbatas bagi banyak negara Global South). Presiden Donald Trump berencana mencabut sistem tersebut dan bernegosiasi langsung, sebuah langkah yang mungkin mengubah akses tetapi tidak otomatis membuatnya lebih adil.
Tantangan lain termasuk ekosistem data yang lemah, fragmentasi hukum (lebih dari 40 negara memiliki undang-undang perlindungan data), dan masalah kualitas data. Artikel mendorong tata kelola inklusif: transparansi, keadilan, pengawasan manusia, dan kerja sama regional. Disarankan Perserikatan Bangsa-Bangsa bekerja dengan badan-badan regional untuk memperbaiki standar data, proteksi, dan partisipasi sehingga AI dapat mendukung pembangunan yang lebih adil.
- Masalah teknis dan kebijakan berhubungan erat dengan sejarah ekonomi.
- Perubahan aturan AS dapat mengubah akses, tetapi kesetaraan belum pasti.
- Kebutuhan utama adalah kerja sama regional dan standar data yang lebih baik.
Kata-kata sulit
- tata kelola — aturan dan praktik untuk mengatur sesuatu
- timpang — tidak merata atau ada ketidakseimbangan
- kapasitas — kemampuan atau sumber daya untuk melakukan sesuatu
- infrastruktur — sistem dasar dan fasilitas untuk aktivitas ekonomi
- pusat data — tempat penyimpanan dan pengolahan data skala besar
- skeptisisme — keraguan atau ketidakpercayaan terhadap suatu klaim
- fragmentasi — terpecahnya aturan atau sistem menjadi bagian-bagian
- transparansi — keterbukaan informasi yang dapat dilihat publik
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana perubahan aturan AS tentang chip bisa memengaruhi kesetaraan akses teknologi di negara-negara Global South? Berikan alasan.
- Mengapa kerja sama regional dan standar data yang lebih baik penting bagi negara-negara Afrika menurut artikel?
- Langkah praktis apa yang bisa dilakukan negara-negara Global South untuk memperbaiki posisi mereka dalam ekosistem AI global?
Artikel terkait
Media Sosial: Manfaat dan Risiko Informasi
Media sosial memberi dukungan dan informasi, tetapi juga menyebarkan ujaran kebencian, kebohongan, dan bahaya nyata. Perubahan kebijakan dan teknologi—termasuk keputusan Meta Januari 2025 dan AI generatif—memperbesar manfaat sekaligus risiko.
Proyek Air di Timur Tengah Mengalami Kekurangan Dana
Pemotongan bantuan dari AS dan donor lain mengancam proyek air di negara-negara seperti Morocco, Tunisia, Egypt, Lebanon, dan Jordan. Banyak proyek, termasuk desalinasi dan pengelolaan air, bergantung pada dukungan internasional yang kini berkurang.
Sensor Rumah dan AI Pantau Perubahan Kesehatan pada Pasien ALS
Tim di University of Missouri menguji sistem yang menggabungkan sensor rumah dan kecerdasan buatan untuk melacak perubahan fungsi sehari-hari pada pasien ALS. Tujuannya mendeteksi masalah lebih awal dan membantu tindakan klinis cepat.