Asisten Profesor Luana Nanu dan tim dari University of South Florida menerbitkan temuan mereka di Journal of Hospitality and Tourism Insights. Mereka memulai dengan wawancara semi-terstruktur selama sekitar 15 menit terhadap orang dewasa berusia 60 sampai 82 tahun. Wawancara menanyakan kemudahan penggunaan, reaksi emosional, dan perbaikan yang diinginkan saat berinteraksi dengan kode QR di konteks perhotelan.
Partisipan menceritakan pengalaman beragam. Banyak yang mengalami kesulitan memindai akibat silau, penempatan yang buruk, atau ukuran huruf yang kecil. Masalah ini menuntut usaha mental lebih besar dan sering berujung pada frustrasi serta kemarahan. Sebaliknya, kode QR yang dirancang baik membuat interaksi lancar, meningkatkan kepuasan, dan memperkuat niat untuk kembali ke bisnis.
Pada tahap kedua, tim mengadakan survei daring terhadap ratusan responden usia 60 ke atas dengan skenario perhotelan. Survei menggunakan ukuran standar untuk menilai kemudahan penggunaan, respons emosional, kepuasan, dan loyalitas. Nanu menegaskan bahwa bisnis harus mempertimbangkan usia dan disabilitas, serta tidak sepenuhnya menghilangkan materi cetak.
Kata-kata sulit
- wawancara semi-terstruktur — sesi tanya jawab dengan struktur santai tapi terencana
- kemudahan penggunaan — seberapa mudah orang memakai sesuatu
- reaksi emosional — perasaan yang muncul setelah suatu pengalaman
- silau — cahaya kuat yang menyulitkan melihat
- frustrasi — perasaan kesal karena sesuatu tidak berhasil
- loyalitas — kesetiaan pelanggan kepada sebuah bisnis atau merek
- materi cetak — informasi berbentuk kertas seperti brosur atau menu
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah Anda kesulitan memindai kode QR? Ceritakan pengalaman dan apa yang Anda lakukan.
- Bagaimana menurut Anda bisnis perhotelan bisa membuat kode QR lebih mudah diakses bagi orang tua?
- Apakah penting tetap menyediakan materi cetak selain kode QR di tempat umum? Mengapa atau mengapa tidak?
Artikel terkait
Kecerdasan Buatan Generatif Mengubah Pengalaman Perjalanan
Profesor bisnis menjelaskan bahwa kecerdasan buatan generatif dapat membaca suasana hati pelancong dan menyesuaikan saran perjalanan secara real time. Teknologi ini bekerja sebelum, selama, dan setelah perjalanan, namun menimbulkan kekhawatiran privasi dan etika.
Seniman dan Jurnalis Australia Menentang Penggunaan AI atas Karya Mereka
Seniman, jurnalis, dan pekerja kebudayaan Aborigin di Australia meluncurkan kampanye "Stop AI Theft" dan tagar #PayUp. Mereka menuntut hukum yang memberi kontrol, kompensasi, dan transparansi atas penggunaan karya oleh alat AI generatif.
Jangan Tanya AI, Tanya Rekan: Kreativitas dan Hak Asasi
Tiga penyunting dari organisasi hak asasi menulis editorial bersama tentang penggunaan AI. Mereka meluncurkan seri "Don't ask AI, ask a peer" untuk menyorot kreativitas manusia, pertukaran sejawat, dan pendekatan hak asasi terhadap AI.