Sebuah tim di The Rockefeller University menggunakan cryo-EM untuk menyelidiki bagaimana reseptor sel T (TCR) memulai pensinyalan yang membuat imunoterapi sel T efektif. Penelitian ini, dari Laboratory of Molecular Electron Microscopy yang dipimpin Thomas Walz dengan penulis pertama Ryan Notti, dipublikasikan di Nature Communications.
Kelompok itu melakukan dua perubahan metodologis penting. Pertama, mereka mengembalikan kompleks multi-protein ke membran menggunakan nanodiscs, yaitu lapisan membran berbentuk cakram kecil yang distabilkan oleh protein penopang. Menyusun semua delapan protein ini ke dalam nanodisc ternyata menantang. Kedua, mereka memakai campuran lipid yang dipilih untuk meniru membran sel T asli. Studi struktural sebelumnya menggunakan deterjen, yang menghilangkan membran dan tampaknya membuat reseptor tetap berada dalam keadaan terbuka bahkan saat tidak aktif.
Dengan membran utuh, TCR ditemukan dalam keadaan tertutup dan kompak saat istirahat; saat bertemu molekul penyaji antigen, reseptor membuka dan memanjang. Para penulis menyatakan pandangan struktural baru ini dapat membantu menyempurnakan dan memperluas imunoterapi sel T, misalnya dengan merekayasa sensitivitas reseptor atau mengatur ambang aktivasi pada terapi sel T adopsi untuk beberapa sarcoma langka. Struktur ini juga dapat memberi masukan pada desain vaksin dan memungkinkan penelitian rinci tentang interaksi antara antigen yang dipresentasikan oleh HLA dan reseptor sel T.