Sebuah studi internasional yang dimuat di jurnal Self and Identity menggunakan salah satu kumpulan data terbesar tentang sifat psikologis. Lebih dari 45.000 orang dari 53 negara mengisi survei yang mengukur tingkat narsisme mereka.
Narsisme digambarkan sebagai harga diri sangat tinggi, empati rendah, dan fokus berlebihan pada diri sendiri. Peneliti menemukan pola yang serupa di banyak negara: orang dewasa muda dan pria cenderung memiliki skor narsisme lebih tinggi. Mereka juga menemukan hubungan antara kekayaan negara (PDB) dan tingkat narsisme, sedangkan budaya kolektif tidak selalu mengurangi perilaku berpusat pada diri.
Kata-kata sulit
- narsisme — ketertarikan berlebihan pada diri sendiri dan harga diri tinggi
- empati — kemampuan memahami perasaan orang lain
- survei — kuesioner atau penelitian dengan pertanyaan kepada banyak orang
- pola — susunan berulang yang terlihat dalam data atau perilaku
- kekayaan — jumlah sumber daya atau uang yang dimiliki negara
- kolektif — berkaitan dengan kepentingan atau tujuan kelompok
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurutmu orang dewasa muda lebih mungkin menunjukkan perilaku berpusat pada diri? Mengapa?
- Bagaimana menurutmu kekayaan suatu negara bisa berhubungan dengan tingkat narsisme?
Artikel terkait
March Madness, Ilusi Kontrol, dan Peran Keberuntungan
March Madness memicu banyak orang mengisi bracket dan mencoba menebak pemenang. Albert Cohen dari Michigan State University menjelaskan bagaimana keterampilan, analisis, dan keberuntungan saling berperan, sementara kebetulan sering mengubah hasil.
Hadiah Dewasa Memicu Kontroversi di Karnaval Trinidad dan Tobago
Sebuah band memasukkan mainan dewasa berbentuk mawar ke dalam goody bag untuk perempuan yang bermain mas, memicu kritik dari tokoh agama dan reaksi terbagi di publik. Debat menyentuh moral, budaya, keselamatan, dan kemungkinan regulasi.
Pola pikir "semua-atau-tidak sama sekali" pada olahraga
Peneliti menemukan bahwa pola pikir "semua-atau-tidak sama sekali" membuat orang meninggalkan rencana olahraga. Studi ini mengidentifikasi empat unsur pola pikir itu dan memberi saran berpikir ulang agar orang lebih konsisten berolahraga.