Tim peneliti, yang dipimpin oleh Court Hull dan Wade G. Regehr bersama penulis pertama Fernando Santos Valencia, menemukan sirkuit disinhibitori di serebelum yang membantu menjelaskan pembelajaran gerak. Hasil studi ini dipublikasikan di Nature.
Climbing fibers mengirim sinyal kesalahan saat gerakan tidak sesuai rencana. Sinyal itu mengaktifkan sel Purkinje dan memicu lonjakan kalsium yang mendukung plastisitas sinaptik. Akan tetapi climbing fibers juga mengaktifkan sel penghambat, sehingga muncul paradoks bagaimana sinyal dapat mendorong pembelajaran sekaligus menekannya.
Eksperimen dengan mikroskopi elektron, irisan otak, dan perekaman pada tikus hidup menunjukkan bahwa climbing fibers memilih kelompok penghambat tertentu. Kelompok ini menekan penghambat lain yang biasanya mengurangi pembelajaran, sehingga terjadi disinhibisi singkat dan peningkatan sinyal kalsium pada sel Purkinje.
Kata-kata sulit
- disinhibitori — penurunan pengaruh sel yang biasanya menghambat
- serebelum — bagian otak yang mengatur koordinasi gerakan
- sel penghambat — neuron yang mengurangi aktivitas neuron lain
- plastisitas sinaptik — kemampuan sambungan saraf berubah karena pengalaman
- lonjakan kalsium — kenaikan cepat kadar ion kalsium di sel
- paradoks — keadaan yang tampak bertentangan atau membingungkan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana sirkuit disinhibitori di serebelum itu bisa memengaruhi cara kita belajar gerakan sehari-hari, misalnya saat berlatih olahraga atau musik?
- Teks menyebutkan mikroskopi elektron, irisan otak, dan perekaman pada tikus hidup. Mengapa menurut Anda kombinasi metode ini penting untuk memahami sirkuit otak?
- Apa risiko atau batasan yang mungkin ada ketika menafsirkan hasil dari eksperimen pada tikus untuk menjelaskan pembelajaran pada manusia?
Artikel terkait
Otak Prediksi Frasa, Bukan Hanya Kata Berikutnya
Penelitian menunjukkan otak manusia memprediksi kata dengan mengelompokkan kata secara gramatikal menjadi frasa, berbeda dari model bahasa besar (LLM) yang dilatih untuk menebak kata berikutnya. Temuan ini didukung oleh eksperimen dan rekaman aktivitas otak.
Otak dan suara: mengapa anjing laut bisa meniru
Studi yang diterbitkan di Science dan dipimpin oleh Emory University serta New College of Florida menemukan jalur saraf pada otak yang menjelaskan mengapa beberapa anjing laut mampu mengontrol dan meniru suara, sementara anjing liar biasanya tidak.
Semprotan Hidung Baru Bantu Balikkan Penuaan Otak pada Model Praklinis
Peneliti di Texas A&M melaporkan semprotan hidung yang mengirim vesikel kecil berisi mikroRNA ke otak. Pada model praklinis, dua dosis mengurangi peradangan, memperbaiki mitokondria neuron, dan meningkatkan memori selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.