Senegal Juara AFCON 2025 di Tengah Kontroversi VARCEFR B2
26 Jan 2026
Diadaptasi dari Adesewa Olofinko, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh Victor Rutka, Unsplash
Final Piala Afrika 2025 di Prince Moulay Abdellah Stadium, Rabat, pada 18 Januari 2026, menjadi sorotan karena kombinasi hasil sportif dan kontroversi. Senegal menang 1-0 atas Maroko setelah pertandingan yang memuncak ketika wasit, setelah tinjauan VAR pada menit ke-98, menganugerahkan penalti untuk tuan rumah. Pemain Senegal memprotes dengan berjalan mundur dari lapangan. Penalti yang diambil kemudian digagalkan oleh kiper Senegal, sehingga laga berlanjut dan Pape Gueye mencetak gol penentu di perpanjangan waktu.
Ketegangan berlanjut di luar lapangan. Video menunjukkan beberapa jurnalis Maroko meninggalkan konferensi pers ketika pelatih Senegal, Pape Bouna Thiaw, masuk, dan International Sports Press Association (AIPS) bersama wartawan asing mengkritik tindakan tersebut sebagai tidak sesuai standar profesional. Pejabat Senegal juga sempat mengajukan keluhan resmi sepanjang minggu tentang keselamatan penonton dan perlakuan yang mereka terima saat tiba di Maroko.
Kasus lain yang menambah kemarahan publik termasuk video ball boy yang diduga melepas handuk kiper serta kritik berulang terhadap keputusan wasit dan intervensi VAR yang terlambat. Samuel Eto’o dikenai sanksi oleh CAF berupa denda dan larangan terkait perilaku setelah pertandingan yang dianggapnya tidak adil. Banyak pengamat mengaitkan kontroversi ini dengan pola penyelenggaraan berulang di Maroko, yang antara lain menjadi tuan rumah CHAN 2018, Piala Afrika U-23 2023, Piala Afrika U-17 2025, Piala Afrika Wanita 2024, dan AFCON 2025. Tokoh seperti Asisat Oshoala mempertanyakan konsentrasi gelaran di satu negara, sementara hasil akhir mengangkat peringkat Senegal ke posisi ke-12 FIFA dan meninggalkan diskusi tentang warisan turnamen yang kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh kontroversi tersebut.
Kata-kata sulit
- tinjauan — penelaahan ulang keputusan pertandingan oleh wasittinjauan VAR
- perpanjangan waktu — waktu tambahan setelah waktu normal pertandingan selesai
- konferensi pers — pertemuan resmi dengan wartawan untuk keterangan
- keluhan — aduan atau laporan tentang perlakuan atau masalahkeluhan resmi
- sanksi — hukuman resmi berupa denda atau larangan
- penyelenggaraan — tindakan menyelenggarakan atau mengorganisir acara
- warisan — dampak atau peninggalan yang tersisa setelah acara
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurut Anda konsentrasi penyelenggaraan turnamen di satu negara memengaruhi kepercayaan publik terhadap kompetisi?
- Langkah apa yang bisa diambil federasi atau penyelenggara untuk meningkatkan keselamatan dan perlakuan terhadap tim tamu serta wartawan?
- Apakah kemenangan Senegal akan tetap dilihat positif meskipun ada kontroversi? Jelaskan alasan Anda.
Artikel terkait
Melihat Ketidakpastian sebagai Peluang
Penelitian ETH Zurich menguji apakah memandang ketidakpastian sebagai peluang mengubah sikap politik. Setelah presentasi singkat, peserta lebih positif terhadap keberagaman, lebih mendukung perubahan sosial, dan lebih kecil kemungkinan memilih AfD.
Pendidik Minta Evolusi Dikembalikan ke Buku Teks di India
Pendidik sains di India meminta pemerintah mengembalikan materi evolusi yang dihapus dari buku pelajaran. Penghapusan dilakukan oleh NCERT untuk meringankan beban belajar setelah pandemi, dan ratusan ilmuwan menolak keputusan itu.
COP30 di Belém: Tekanan Karibia untuk Keadilan Iklim
COP30 berlangsung di Belém, Brazil, dari 10 hingga 21 November untuk melanjutkan pembicaraan tentang krisis iklim. Negara-negara Karibia menuntut keadilan iklim dan agenda Loss and Damage setelah Hurricane Melissa menyebabkan kerusakan besar.
Kekerasan Digital terhadap Jurnalis dan Aktivis Perempuan
Kekerasan digital terhadap jurnalis dan aktivis perempuan di Indonesia semakin terlihat dalam lima tahun terakhir. Serangan online meliputi doxing, manipulasi foto, peretasan dan DDoS; korban melaporkan perlindungan kelembagaan yang terbatas.