Ashgabat: Kota Marmer dan Krisis di BaliknyaCEFR A2
28 Feb 2026
Diadaptasi dari Areeha Tunio, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh Nikolai Kolosov, Unsplash
Pada 2013 Ashgabat tercatat di Guinness World Records karena banyaknya bangunan berpakaian marmer putih. Kota ini juga memiliki patung dan taman yang luas sehingga tampak seperti panggung kosong.
Pemerintah di bawah presiden memakai estetika "Kota Putih" sebagai simbol kekuasaan. Proyek besar itu dibiayai dari pendapatan gas alam negara.
Namun di balik kemegahan, Turkmenistan menghadapi krisis air dan masalah pangan. Sungai Amu Darya menyusut dan banyak daerah pedesaan kekurangan air. Negara mengimpor banyak makanan, dan pegawai negeri kadang dikirim kerja di ladang kapas. Informasi dan pergerakan warga dikontrol ketat.
Kata-kata sulit
- marmer — batu alam berwarna untuk bangunanmarmer putih
- estetika — gaya atau pandangan tentang keindahanestetika "Kota Putih"
- kekuasaan — kemampuan mempengaruhi orang atau keputusan
- pendapatan — uang yang diterima suatu negara atau orangpendapatan gas alam negara
- kekurangan — keadaan tidak cukup atau kurang sesuatukekurangan air
- mengimpor — membeli barang dari luar negeri
- mengontrol — mengawasi atau mengatur sesuatu dengan ketatdikontrol
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurutmu bangunan marmer putih mempengaruhi suasana kota?
- Apa akibat menyusutnya Sungai Amu Darya untuk daerah pedesaan?
- Apakah menurutmu wajar jika informasi warga dikontrol ketat? Mengapa?
Artikel terkait
Pelanggaran Aturan Wisata Hiu Paus di El Azul
Studi dengan rekaman drone (2016 dan 2022) menemukan bahwa perahu wisata dan perenang sering melanggar aturan di El Azul, lokasi hiu paus seluas 400 km². Penulis merekomendasikan pengawasan lebih baik, regulasi diri pemandu, dan investasi jangka panjang.
Suara Masyarakat Adat dan Sipil di COP30 Belém
COP30 di Belém menonjol karena kehadiran masyarakat sipil dan kenaikan partisipasi masyarakat adat. Konferensi mengakui hak teritorial adat dan meluncurkan inisiatif dana hutan, sementara aksi jalan dan pawai besar menyuarakan tuntutan sosial.