Peneliti di St. Louis melanjutkan studi SPAN yang dimulai pada 2007. Awalnya ada sekitar 1.600 peserta yang berusia paruh baya, dan sekarang tim mengikuti sekitar 500 dari mereka saat menjadi kakek-nenek.
Hasil menunjukkan kakek-nenek kini lebih sering berkomunikasi dengan cucu, dan kontak digital menjadi cara yang paling umum. Nenek lebih sering bicara dengan cucu tentang pekerjaan, teman, perubahan sosial, dan rasisme. Kakek-nenek kulit hitam melaporkan lebih sering membahas ras dan identitas. Peneliti akan meminta perspektif cucu dan menelaah siapa yang menginisiasi kontak. Penelitian ini menerima dukungan dari National Institutes of Health Grants.
Kata-kata sulit
- peneliti — orang yang melakukan penelitian atau studi
- paruh baya — usia dewasa antara muda dan tua
- kontak digital — komunikasi lewat internet atau perangkat elektronik
- melaporkan — memberi informasi resmi atau hasil observasi
- menginisiasi — memulai suatu kegiatan atau percakapan
- perspektif — cara melihat atau memahami suatu hal
- dukungan — bantuan atau sokongan sering berupa dana
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah Anda atau keluarga Anda sering berkomunikasi secara digital dengan kakek-nenek? Mengapa?
- Mengapa menurut Anda peneliti ingin meminta perspektif cucu dalam studi ini?
Artikel terkait
Hadiah Dewasa Memicu Kontroversi di Karnaval Trinidad dan Tobago
Sebuah band memasukkan mainan dewasa berbentuk mawar ke dalam goody bag untuk perempuan yang bermain mas, memicu kritik dari tokoh agama dan reaksi terbagi di publik. Debat menyentuh moral, budaya, keselamatan, dan kemungkinan regulasi.
Rusia Melarang Film yang Dinilai Menentang Nilai Tradisional
Pada 1 Maret 2026, undang-undang baru di Rusia melarang distribusi film yang dianggap mencemarkan nilai-nilai tradisional. Kementerian Kebudayaan dapat menolak lisensi untuk bioskop, layanan streaming daring, dan media sosial.
Orang Romani di pinggiran São Paulo berjuang untuk pengakuan
Orang Romani di pinggiran Greater São Paulo menghadapi prasangka, banjir, dan kesulitan akses layanan publik. Tanpa pengakuan resmi dan data sensus, aktivis mengatakan kebijakan sulit dirancang dan pendidikan perlu diperbaiki.