Eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi perang antara AS dan Iran telah meningkatkan kekhawatiran terhadap ketidakamanan pangan global. Para ahli menjelaskan bahwa perang dan gangguan terkait menaikkan harga minyak dan membatasi pengiriman melalui Selat Hormuz, sehingga menekan sistem pangan dunia dan mengganggu perdagangan pupuk. Sekitar sepertiga dari ekspor pupuk yang dikapalkan melewati rute itu, sehingga penutupan atau gangguan sangat berdampak.
Pada konferensi pers Jumat (17 April) yang diselenggarakan oleh Center for International Environmental Law (CIEL) dan IPES-Food, pembicara memperingatkan krisis ini akan memperburuk kelaparan dan menaikkan harga pangan. World Bank, International Monetary Fund dan UN World Food Programme memberi peringatan serupa. Olivier De Schutter dari IPES-Food menyatakan sudah ada 673 juta orang kelaparan di Afrika dan kenaikan harga bisa menambah mungkin 45 juta orang lagi.
Para ahli mendesak percepatan peralihan ke agroekologi untuk membangun ketahanan di negara berpendapatan rendah. Agroekologi menerapkan metode organik seperti rotasi tanaman, kompos, pupuk kandang dan tanaman pengikat nitrogen. Contoh tanaman yang disebutkan termasuk kacang arab, kacang-kacangan dan lentil, polong-polongan, serta tanaman pakan seperti alfalfa atau semanggi. Para pembicara mengusulkan juga produksi makanan lebih lokal, pengurangan pengolahan dan pengemasan, serta pengembangan pupuk hayati dari limbah organik — misalnya penggunaan larva lalat tentara hitam di Filipina.
Para ahli menyoroti kerentanan banyak negara berpendapatan rendah yang bergantung pada impor pangan dan bahan bakar. Barnaby Pace dari CIEL memperingatkan Sub-Sahara Afrika dan Asia sangat bergantung pada impor pupuk dari Teluk. De Schutter memberi contoh negara: Malawi 52 persen, Uganda 27 persen dan Tanzania 31 persen pupuknya berasal dari Teluk. Pace mencatat ini merupakan gangguan pasokan pupuk besar ketiga dalam enam tahun terakhir, setelah COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina.
Mereka juga mencatat hambatan untuk perubahan cepat. Di Asia Selatan subsidi pupuk kimia tetap besar; Swathi Seshadri mengatakan subsidi India diperkirakan mencapai US$12.7 billion tahun ini, naik dari US$10.9 billion. Fadhel Kaboub memperingatkan bahwa empat korporasi menguasai sekitar 70 persen pasar gandum global dan memengaruhi pupuk serta logistik, yang membuat upaya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan bahan bakar fosil menjadi lebih sulit.
- Rotasi tanaman, kompos, dan pupuk kandang
- Tanaman pengikat nitrogen: kacang arab, lentil, polong-polongan
- Produksi lokal dan pupuk hayati dari limbah organik
Kata-kata sulit
- agroekologi — pendekatan pertanian yang menggunakan metode organik dan lokal
- ketahanan — kemampuan sistem pangan bertahan dari gangguan
- pupuk hayati — pupuk yang dibuat dari bahan organik dan mikroba
- subsidi — bantuan finansial pemerintah untuk menurunkan biaya barangsubsidi India
- kerentanan — kondisi mudah terkena dampak negatif atau gangguan
- peralihan — proses berpindah dari satu praktik ke praktik lain
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apa tantangan utama yang mungkin dihadapi negara berpendapatan rendah saat beralih ke agroekologi? Jelaskan dengan contoh dari teks atau pengalaman nyata.
- Bagaimana subsidi pupuk dan dominasi beberapa korporasi bisa menghambat upaya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia menurut artikel?
- Menurut Anda, apa keuntungan dan risiko meningkatkan produksi makanan lokal untuk mengurangi dampak gangguan perdagangan pupuk?
Artikel terkait
Studi: Penilaian IPC Meremehkan Kelaparan
Studi baru menemukan bahwa penilaian IPC secara sistematis meremehkan jumlah orang yang mengalami kelaparan. Penelitian ini menganalisis penilaian dan wawancara, lalu merekomendasikan perbaikan data dan keputusan untuk memperbaiki alokasi bantuan.