Khaled Khella: Cerita Generasi dalam Film PendekCEFR A1
10 Jul 2025
Diadaptasi dari Fatma Al-Zahraa Badawy, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh Lisa Marie Theck, Unsplash
- Khaled Khella adalah pembuat film independen terkenal dari Mesir.
- Ia lahir di Helwan, bagian selatan kota besar Kairo.
- Ia mulai membuat video untuk media sosial lalu film pendek.
- Film-filmnya membahas hasrat, kekuasaan, dan perjuangan hidup kota.
- Satu film singkatnya diputar di festival luar negeri.
- Ia memilih banyak pemeran bukan profesional melalui audisi Facebook.
- Film "Egyptian Misery" menampilkan cerita dramatis dari orang muda.
- Khella mengatakan penderitaan kadang tidak dianggap sebagai masalah.
Kata-kata sulit
- independen — tidak tergantung pada pihak lain
- hasrat — perasaan ingin atau keinginan kuat
- kekuasaan — kemampuan mengendalikan orang atau hal
- perjuangan — usaha keras untuk mencapai sesuatu
- pemeran — orang yang berperan dalam film atau teater
- penderitaan — rasa sakit atau kesedihan yang berat
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu suka menonton film pendek?
- Pernahkah kamu ikut audisi atau tampil di depan kamera?
- Apakah kamu pernah menonton film dari Mesir?
Artikel terkait
Remaja di Hong Kong Menggunakan Chatbot sebagai Teman Emosional
Laporan 12 Oktober 2025 menunjukkan remaja di Hong Kong memakai chatbot seperti Xingye dan Character.AI untuk dukungan emosional. Para ahli peringatkan risiko, dan beberapa pengembang mencoba membuat alat yang lebih aman.
Media Sosial: Manfaat dan Risiko Informasi
Media sosial memberi dukungan dan informasi, tetapi juga menyebarkan ujaran kebencian, kebohongan, dan bahaya nyata. Perubahan kebijakan dan teknologi—termasuk keputusan Meta Januari 2025 dan AI generatif—memperbesar manfaat sekaligus risiko.
Membaca untuk Kesenangan Menurun di AS
Di Amerika Serikat, kebiasaan membaca untuk kesenangan turun pada anak dan orang dewasa. Peneliti dari University of Miami menyebut media sosial, permainan, dan keterbatasan akses buku sebagai penyebab dan memberi saran praktis untuk mendorong membaca.