Di Kenya dan Nigeria, orang dengan disabilitas di permukiman kumuh mengalami masalah saat pandemi COVID-19. Banyak klinik ditutup atau diubah menjadi pusat perawatan COVID-19 sehingga akses layanan kesehatan berkurang dan antrean menjadi panjang.
Pembatasan pergerakan dan penguncian membuat usaha kecil tutup, lalu banyak orang kehilangan penghasilan. Harga obat naik dan beberapa keluarga tidak lagi mampu membayar pengobatan atau fisioterapi. Para advokat meminta agar layanan kesehatan lebih dekat ke permukiman dan agar bantuan serta informasi dibuat mudah diakses untuk semua.
Kata-kata sulit
- disabilitas — kondisi tubuh atau pikiran yang membatasi aktivitas
- permukiman kumuh — daerah rumah padat dengan fasilitas buruk
- pandemi — penyakit menular yang menyebar ke banyak negara
- antrean — barisan orang yang menunggu giliran
- penghasilan — uang yang diperoleh dari kerja atau usaha
- advokat — orang atau kelompok yang membela hak orang lain
- fisioterapi — perawatan dengan latihan untuk memperbaiki tubuh
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana penutupan klinik mungkin mempengaruhi orang dengan disabilitas?
- Mengapa layanan kesehatan yang lebih dekat penting untuk permukiman kumuh?
- Contoh informasi apa yang sebaiknya dibuat mudah diakses untuk semua?
Artikel terkait
Sleep apnea yang tidak diobati percepat penuaan jantung
Studi laboratorium pada tikus menemukan bahwa sleep apnea yang tidak diobati—dengan penurunan oksigen berulang—mempercepat penuaan kardiovaskular dan meningkatkan angka kematian. Penulis menekankan pentingnya skrining dini dan pengobatan seperti CPAP.
Remaja di Hong Kong Menggunakan Chatbot sebagai Teman Emosional
Laporan 12 Oktober 2025 menunjukkan remaja di Hong Kong memakai chatbot seperti Xingye dan Character.AI untuk dukungan emosional. Para ahli peringatkan risiko, dan beberapa pengembang mencoba membuat alat yang lebih aman.
Brazil Dekriminalisasi Kepemilikan Ganja untuk Penggunaan Pribadi
Pada Juni 2024 Mahkamah Agung Brazil menyetujui dekriminalisasi kepemilikan ganja untuk penggunaan pribadi. Kepemilikan hingga batas tertentu dianggap bukan tindak pidana, dan keputusan itu berpotensi mengurangi kepadatan penjara.