- Kudeta militer terjadi di Myanmar.
- Banyak orang pergi ke pengasingan.
- Elizabeth berasal dari bagian tengah Myanmar.
- Ia suka membaca novel fantasi sejak kecil.
- Ia belajar kedokteran dan menulis blog.
- Di blog ia menulis puisi dan tulisan singkat.
- Setelah kudeta, ia menolak bekerja untuk pemerintah militer.
- Ia bersembunyi di desa terpencil sekitar satu tahun.
- Kemudian ia pergi ke Thailand untuk hidup di pengasingan.
- Ia membuat lagu dan video tentang perempuan Myanmar.
Kata-kata sulit
- kudeta — penggulingan pemerintah oleh militer yang tiba-tiba
- pengasingan — keadaan jauh dari negara atau rumah
- kedokteran — ilmu dan praktik bekerja sebagai dokter
- bersembunyi — tinggal di tempat yang tidak terlihat
- menolak — mengatakan tidak atau menentang permintaan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu suka membaca novel?
- Apakah kamu pernah menulis blog?
- Apakah kamu pernah pergi ke negara lain?
Artikel terkait
Filipina: energi terbarukan dan penandaan (red-tagging)
Pemerintah Filipina mencabut batas kepemilikan asing untuk menarik investasi energi terbarukan. Pada waktu yang sama, praktik penandaan (red-tagging) terhadap aktivis dan organisasi mempersempit akses bantuan dan menimbulkan dakwaan terhadap beberapa LSM.
Komunitas Global Voices Buat Daftar Putar untuk Nate Matias
Komunitas Global Voices menyusun daftar putar untuk mendukung Nate Matias yang akan bersepeda setara 10,000 meter selama tiga hari untuk mengumpulkan dana. Kontributor memilih lagu dari berbagai daerah dan menjelaskan pilihan mereka.
Aktivis Kongo Melawan "Kutukan Sumber Daya" Secara Damai
François Kaserake Kamate, aktivis dari timur Republik Demokratik Kongo, menentang eksploitasi mineral yang memicu kekerasan. Ia menyerukan solidaritas, ruang bagi aktivis muda, dan strategi non-kekerasan untuk melindungi komunitas lokal.
Farzana Sithi dan Perjuangan Perempuan setelah Juli–Agustus 2024
Farzana Sithi, aktivis dari Jessore, menjadi suara terkenal untuk hak perempuan setelah pemberontakan Juli–Agustus 2024. Ia melaporkan kekerasan, pelecehan daring, dan kegagalan pemerintah dalam menangani korban dan kuota perempuan.