Kendo: Jalan Pedang dari JepangCEFR B1
24 Mei 2025
Diadaptasi dari Jo Carter, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh Simon Dreher, Unsplash
Kendo, yang berarti "jalan pedang", adalah seni bela diri modern dari Jepang. Seni ini menekankan latihan fisik, ketahanan mental, sopan santun, dan disiplin diri, serta mempertahankan warisan para samurai.
Asal-usul kendo berasal dari era feodal, terutama periode Edo, ketika samurai berlatih teknik pedang yang disebut kenjutsu di dojo. Setelah Restorasi Meiji, praktik terus berubah dan para praktisi mengganti pedang asli dengan shinai (pedang bambu) dan mulai memakai perlindungan untuk menjaga keselamatan. Kendo modern mulai distandarisasi pada awal abad ke-20.
Dalam latihan dan pertandingan, para kendoka memakai bogu, yang meliputi men (helm), do (pelindung tubuh), kote (sarung tangan), dan tare (pelindung pinggang). Serangan yang sah masuk ke kepala, tubuh, pergelangan tangan, dan tenggorokan. Poin diberikan jika serangan presisi, berwajah baik, dan disertai kiai.
Kata-kata sulit
- menekankan — mengatakan sesuatu penting atau utama
- ketahanan — kemampuan bertahan secara fisik atau mental
- disiplin — kebiasaan patuh pada aturan dan latihan
- mempertahankan — menjaga supaya sesuatu tetap ada
- kenjutsu — teknik memakai pedang tradisional Jepang
- shinai — pedang latihan yang terbuat dari bambu
- bogu — perlengkapan pelindung yang dipakai kendoka
- presisi — ketepatan gerakan atau sasaran serangan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurut Anda penggunaan shinai dan bogu membantu keselamatan latihan? Jelaskan singkat.
- Apakah nilai sopan santun dan disiplin diri dalam kendo berguna di kehidupan sehari-hari Anda? Beri contoh.
- Menurut teks, kendo mempertahankan warisan samurai. Menurut Anda, mengapa menjaga warisan budaya penting?
Artikel terkait
Perjalanan Miski Osman: Mogadishu, Nairobi, dan Investasi di Afrika Timur
Proyek yang didukung AUMF, International Consulting Expertise, dan Uni Eropa mengumpulkan wawancara tentang diaspora Somalia. Seri ini menonjolkan pengalaman Miski Osman, perjalanan hidupnya, dan pekerjaannya pada tata kelola, ketahanan, dan investasi di Afrika Timur.
Melihat Ketidakpastian sebagai Peluang
Penelitian ETH Zurich menguji apakah memandang ketidakpastian sebagai peluang mengubah sikap politik. Setelah presentasi singkat, peserta lebih positif terhadap keberagaman, lebih mendukung perubahan sosial, dan lebih kecil kemungkinan memilih AfD.