Dua ahli dari Virginia Tech menjelaskan bahwa menonton film romantis mempengaruhi cara orang melihat hubungan nyata. Mereka mengatakan paparan cerita cinta dimulai sejak kanak-kanak dan terus berlanjut sampai dewasa.
Salah satu ahli menyebut contoh film klasik Disney seperti Snow White dan Cinderella serta judul modern seperti Frozen dan Tangled. Cerita-cerita ini sering merayakan pernikahan dan akhir "happily ever after".
Ahli lain menyorot film gaya Hallmark dan program "Loveuary". Film semacam itu sering mengesampingkan konflik nyata, menghadirkan trope seperti menemukan "the one", dan kurang menunjukkan keberagaman ras atau orientasi.
Kata-kata sulit
- mempengaruhi — membuat berubah cara melihat sesuatu
- paparan — kontak atau melihat sesuatu untuk waktu tertentu
- kanak-kanak — anak usia kecil, masa sebelum remaja
- mengesampingkan — mengabaikan atau menaruh di sisi lain
- keberagaman — keadaan ada banyak jenis orang atau hal
- trope — ide atau pola cerita yang sering muncul
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu sering menonton film romantis? Mengapa atau mengapa tidak?
- Bagaimana menurutmu akhir "happily ever after" — realistis atau tidak? Jelaskan singkat.
- Apakah kamu ingin melihat lebih banyak keberagaman dalam film? Mengapa?
Artikel terkait
Mengapa Orang Menyukai Film Liburan yang Menghibur
Para peneliti dari Virginia Tech menjelaskan mengapa banyak penonton menonton film liburan yang hangat dan dapat ditebak. Film seperti produksi Hallmark dan judul di layanan streaming memberi pelarian, suasana liburan, dan akhir bahagia.
Pohon Natal Nyata: Produksi, Harga, dan Perawatan
Setelah Thanksgiving, banyak keluarga AS memasang dekorasi dan membeli pohon Natal nyata. Industri menghadapi tarif tinggi dan tantangan produksi, sehingga harga bisa berubah; pendidik extension Bill Lindberg memberi informasi dan tips perawatan.
Kekerasan Digital terhadap Jurnalis dan Aktivis Perempuan
Kekerasan digital terhadap jurnalis dan aktivis perempuan di Indonesia semakin terlihat dalam lima tahun terakhir. Serangan online meliputi doxing, manipulasi foto, peretasan dan DDoS; korban melaporkan perlindungan kelembagaan yang terbatas.